SELAMAT DATANG

Jumat, 20 April 2012

SAMARINDA..OH...SARUNG SAMARINDA


            Ada sebuah pertanyaan yang pas untuk mengawali artikel ini,khususnya buat orang – orang yang mengaku tinggal dan hidup di Samarinda “sudah punya sarung samarinda belum dirumah?” that’s it. Kalau penulis sih punyalah (xixi XP), namun mesti kita akuin secara gentle bahwa keberadaan dari sarung samarinda tidak membumi di daerahnya. Dan itulah yang akan kita bahas dan kupas dalam artikel ini, meskipun sekalian bareng mempublish ke kawan – kawan pembaca tentang sarung samarinda dan hasil olah karya pengrajin kain tenun didaerah gua (penulis.. Xixi Xp).
            Kenalin, nama kota gua Samarinda sering disebut dengan kota teduh, rapi dan aman (tepian). Selain terkenal dengai Sungai Mahakam-nya yang luas, tepiannya yang panjang, amplangnya yang khas, pusamania yang top abis, namun ada satu hal yang mungkin sedikit terabaikan yaitu “ sarung samarinda”. Sarung samarinda merupakan salah satu hasil olah karya pertenunan di kota Samarinda. Mempunyai khas yang tidak dimiliki sarung lainnya dan tidak murahnya harga jualnya. Nah, bisa ditebak pasti kawan – kawan pembaca akan berhenti sejenak di red point kata diatas. Wajar dan memang hal yang lumrah, awalnya penulis pun bertanya – bertanya kenapa harga dari kerajinan tersebut bisa sampai tak murah seperti yang lainnya. Berkat kunjungan budaya kedaerah pertenunan sarung samarinda tempoe doloe bersama kawan – kawan ilmu komunikasi, yang diprakarsai oleh bapak Faisal selaku salah satu dosen di kampus FISIPOL, dari situ pandangan dan pikirin penulis kebuka lebar kawan. Ternyata bukan main dashyatnya apa yang penulis dapat hari itu. Bisa ngelihat langsung alat – alat dari yang gede sampai yang kecil, bisa memperhatikan cara kerjanya, bisa ngerasain susah – senang para pengrajin sampai bisa foto – foto bareng di sana (tetap narsis xixi Xp). Oleh karena itu, dengan adanya artikel ini penulis pengen ngebagi sedikit pengetahuan yang mungkin gua tahu lebih daripada loe, just it brother.
            Begini ceritanya, para pengrajin sarung samarinda kebanyakan berasal dari suku Bugis. Pada awalnya Kerajinan ini berasal dari daerah Sulawesi Selatan, dibawa oleh orang-orang Bugis ke Samarinda tepatnya Samarinda Seberang pada sekitar abad ke 18, berkaitan erat dengan sejarah kedatangan suku Bugis ke Kalimantan Timur. Singkatnya keahlian para pengrajin menenun didapatkan secara turun temurun. Dituturkan oleh salah satu pengrajin bahwa mereka (orang tua) selalu mengajarkan kepada anak dan cucunya teknik dan cara penenunan. “kalo disini memang kita ajarkan cara buat kain kepada anak – anak, jadi kalau saya udah mati begitu ada yang nerusin..” canda Mardiah, pengrajin tenun yang sudah 20 tahun menekuni pekerjaannya. Perlu disadari memang proses regenerasi sangat penting untuk dilakukan, secara sadar para pengrajin tentunya tidak ingin kerajinan ini akan punah nantinya (hebat euy.. xixi Xp). Dan patut kita ketahui proses pembuatan kain ini masih menggunakan alat dan cara tradisional, mereka menyebutnya ATBM (alat tenun bukan mesin). Mengapa mereka masih menggunakan cara dan alat tradisional? Jawaban singkat tapi padat yang diutarakan beberapa pengrajin adalah karena menjaga kualitas dan keorisinilan dari kain tersebut. Bayangkan saja mengahasilakn 1 sarung samarinda bisa memakan waktu 15 hari, biasanya dikerjakan oleh 2 sampai 4 pengrajin.
Ini dia proses singkat nan panjang yang bisa gua kasih tau, buat bikin sarung samarinda.
1.      The first step adalah memintal benang, dengan menggunakan pemintal. Benang yang diapakai adalah benang sutra alam dan beberapa benang import yang kebanyakan dari Jerman (keren mameen... xixi Xp). Asal kawan – kawan tahu alat pemintalnya pun dibuat sendiri oleh pengrajin, biasanya oleh pengarajin laki – laki, hebat kan? Hebatlah, Oke lanjut.
2.       Setelah proses pemintalan kemudian masuk kepada tahap perendaman. Pada tahap ini benang yang sudah dipintal diberi corak warna sesuai dengan khas dan ciri kain tersebut. Biasanya sarung tenun samarinda menggunakan warna-warna tua dan kontras seperti hitam, putih, merah, hijau, ungu, biru laut dan hijau daun.bahan pewarna sendiri biasanya juga barang import gitu deh. Dalam tahap perendaman dibutuhkan waktu 3 hari 3 malam. Nah yang kawan – kawan mesti tahu juga, dari kepercayaan para pengrajin mereka merendam benang tersebut menggunakan air sungai Mahakam. Kata mereka hasil rendaman dengan menggunakan air mahakam dapat menimbulakan taste tersendiri, dan hasilnya tentunya akan lebih bagus. Itu kata mereka, percaya atau enggak coba aja sendiri hehe.. lanjut bang.
3.      Oke, setelah direndam masuk kepada tahap pembilasan dan pengeringan. Pada tahapan ini benang- benang tersebut dibilas dan dikeringkan. Proses pembilasan pun harus dilakukan dengan menggunakan air sungai Mahakam. Biasanya para pengrajin beramai – ramai membilas dipinggiran sungai kebesaran kota yaitu Mahakam. Untuk pengeringan tidak ada prose hitungan waktu sih, benang – benang tersebut dijemur langsung dibawah terik matahari, asal benang sudah kering bisa langsung kepada tahapan selanjutnya (mampus aja kalau ujan semingguan, kasian ya).
4.      Benang telah siap kemudian dipintal kembali. Setelah dipintal kembali dilakukan prose penghanian. Proses hani disini bertujuan untuk menghaluskan dan merapikan benang sebelum masuk ke mesin tenun. Proses ini dibutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya.
5.      Akhirnya masuk pada proses ATBM, benang yang telah dihani kemudian dimasukan ke alat tenun bukan mesin dan ditenun. Nah, disini kita bisa lihat kesabaran dan keuletan para pengrajin dalam pembuatannya. Benang – benang tersebut pun akhirnya menjadi sebuah kain yang siap untuk dijahit pada proses terakhir.
6.      Finally, kain yang sudah siap kemudian dijahit menggunakan tangan. Ujung kain ketemu ujung kain dan jadi deh.

Panjang banget kan prosesnya ampun deh, dari situlah gua bongkar kenapa harga kain samarinda ini tidak murah banget. Gila cuy prosesnya, seru sih tapi ribet banget ya kan? Ya mungkin kalau dibaca doang emang gampang. Tapi kalau kawan – kawan liat langsung kesana, widih ngeri. Makanya gua maklumin harga yang tidak murah itu sebanding dengan proses pembuatannya. Selain sarung, para pengrajin pun mengkreasikannya dengan membuat baju, kopiah dan barang – barang lain yang bahan dasarnya tentu dari hasil tenunan mereka. Ini dia daftar harganya yang gua dapat kawan :
·         Sarung ATBM                   : Rp. 250.000,-
·         Tenun kedokan                  : Rp. 350.000,-
·         Baju tenun sepasang           : Rp. 750.000,-
·         Baju perempuan                 : Rp. 400.000,-
·         Kopiah                               : Rp. 85.000,-
·         Dll                                      : sory, gak sempet catet hehehe....

Akhirnya capek gua nulis, di udahin dulu deh. Pokoknya mohon maaf sebesar – besarnya kalau ada salah – salah kata. Cuman ini informasi yang bisa gua kasih. Kalau mau lebih akurat tajam dan percaya silahkan datang ke Kelurahan Masjid gang pertenunan di Samarinda Sebrang, ibu – ibunya bae – bae kok. And kalau mau pesan barang yang udah jadi bisa menghubungi 0541- 264536 atau 0813 500 600 47, yang ngarep no hape saya sih mohon maaf banget karena itu bukan nope saya, tapi contact ibu Hj Fatmawati pemilik pertenunan disana.

The last, Kata terakhir gue yang khusus gua caps lock agak persuasif sih, silahkan dibaca
“MALU NGAKU ORANG SAMARINDA KALAU KAWAN GAK PUNYA SARUNG SAMARINDA DI LEMARI KAWAN -KAWAN”

















1 komentar: