SELAMAT DATANG

Kamis, 26 April 2012

cerpan - cerpen kawan




Cerita untuk kawan
karya; Fachri Mahayupa

Senja itu begitu menyulutkan pikiranku yang kian buyar. Langit biru kian memerah lantaran surya kian tenggelam oleh malam. Sekawanan burung camar menari-nari diatas kepalaku tanpa ragu untuk turut meramaikan senja itu. Suara hewan-hewan kecil pun perlahan terdengar melewati daun telingaku, memberikan sentuhan melodi indah masuk kedalam otakku. Namun keindahan itu tak mampu membuat pikiranku tenang. Semakin ingin ku nikmati, semakin kusut otakku tak karuan. Senja yang seharusnya dapat dinikmati begitu indah, kulewati dengan kesuraman yang mengambang dibenakku.
 Aku bukanlah aku yang seperti biasa, tak pernah rasanya aku sedemikian buruknya. Tidak ada tanda-tanda yang menjelaskan aku hidup saat itu. Pikiranku sudah dikuasai oleh banyaknya iblis yang terus merayuku, mataku kalap dan mulai kehilangan cahayanya. Saat itu aku berada tepat ditengah jembatan yang membelah sungai terluas di negaraku. Kulihat kebawah dalam, arus air saling berbenturan satu sama lainya menambah kegalauan hatiku. Kupegang tiang dipinggiran dengan kedua tanganku keras, semakin kutatap aliran arus yang tak beraturan itu. Tak sadar tas yang kupikul dipunggungku tlah kulempar menuju sungai. Tak membutuhkan waktu lama tas itu mendarat keatas hamparan air, tas itu terhempas menciptakan percikan butiran air kecil dan merubah goyangan arus menjadi berbeda. Namun hanya sesaat, setelahnya kembali seperti awal. Malah akupun kehilangan jejak tasku yang entah kemana dibawa arus.
Tiba-tiba tak sadar bibir ku merekah tersenyum nafsu, aku berpikir jika tubuh ini yang terhempas akan sama nasibnya seperti halnya tasku itu. Tenggelam, terbawa, mengalir bersatu bersama aliran sungai yang tak karuan. ”Haha..”tawa gila ku menyeruak. Aku tak tau mengapa terlintas pikiran tolol seperti itu. Namun ketololan itu adalah suatu hal terbaik bagiku saat itu. Karena sudah tak ada keinginan untukku hidup didunia yang serba rumit dan tak karuan ini. Bagaimana tidak aku berpikiran seperti itu. Aku adalah seorang pembunuh, tepatnya pembunuh seorang wanita yang kucintai dan satu lagi nyawa lain yang ikut menjadi korban dari pembunuhanku. Kini aku adalah seorang buronan kepolisian, aku adalah seorang pembunuh keji yang tega membunuh kekasihku sendiri. Ketika itu semuanya tak terkontrol, kupukul pegangan tangan pejalan kaki pinggir jembatan itu dengan tanganku. Darah keluar dari permukaan kulit tangan ku. Kupandangi pegangan yang terkena darah, akhirnya muncuk ide bodoh saat itu. Dan kegilaan ku pun berlanjut. Dengan bodohnya aku berkata”aku ingin kau dengarkan aku becerita, setelah cerita itu selesai mungkin aku tak kan lagi pernah kau lihat hahaha..”kepada pegangan itu.
Malam itu langit sangat gelap, bulan pun enggan untuk memamerkan keindahannya. Dengan motor kebanggaan ku aku menjemput kekasihku untuk bergegas menancap gas ke suatu daerah perkampungan di daerah pinggir kotaku. Aku sudah mengikat janji dengan seorang wanita berumur sekitar 35 tahun disana. Sesampainya disana, kuparkir motorku didepan rumahnya yang becek karena sehabis hujan sorenya. Aku lupa memperkenalkan kekasihku,dia bernama frisa maharani 3 tahun lebih muda dariku. Perlahan aku masuk keteras rumah, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terlihat senyum dingin wanita itu. Spontan aku dan frisa kaget, frisa tambah takut dan mencengkram tanganku dengan erat. Dari awal aku menjemputnya pun dia sudah terlihat takut, dan terus memeluk ku dengan erat, tapi aku selalu berhasil menenangkannya.
Wanita itu menyuruh kami masuk dan duduk di sofa miliknya yang sudah bobrok dan robek. Sedikit perbincangan pembuka yang aku sendiri lupa tepatnya aku berpura-pura lupa dan ingin melupakan perbincangan itu. Yang hanya bisa kukatakan pada saat itu aku mengeluarkan uang sebesar 5 juta dari tas ku dan memberikannya pada wanita itu. Setelah itu prisa dibawanya kesebuah kamar,ketika kuikuti dia menghentikan langkahku dan menyuruhku menunggu diluar kamar. Air mata prisa sedikit terurai, isak kecilnya jelas terdengar ditelingaku saat itu. Ketika pintu itu hampir tertutup, tiba-tiba dia keluar dan meregapku dengan peluknya. Diciumnya keningku sambil menjinjitkan kakinya, tak ingin tertinggal air matanya mengucur semakin deras, tangisannya menyerempet basah mengenai wajahku. Aku tak dapat berkata,hanya bisa terpaku melihat dia yang semakin menjauh dari pandanganku. Detik terakhir sebelum semuanya hilang tertutup sebuah pintu, terdengar suara lirihnya berkata ”aku mencintaimu”. Pintu pun tertutup, ragaku terpaku layaknya patung. Namun berbeda jauh dengan hatiku yang galau dan tak tenang.
            Detik banyak terlewati, aku mulai menguasai ritme keadaan. Kosong dan sunyi saat itu, namun sedikit mulai terdengar suara erengan kecil dari frisa. Kutempelkan telingaku kepintu itu, erangan itu semakin kencang meraung. Aku tau dia pasti kesakitan, hati ini menyuruh raga ini untuk mendobrak pintu itu. Tapi entah kenapa tidak sampai ke otak ku saat itu. badanku tak bergerak sama sekali, hati ini terus mencoba menyuruh kaki dan tangan ini bergerak. Namun nihil, yang ada di otak ku hanya lah perkataan wanita itu yang tak memperbolehkanku masuk kedalam kamar itu.
            Tapi ada sebuah pergantian kondisi, semula prisa hanya mengerang. Namun saat itu dia berteriak memanggil namaku, sambil berkata ”SAKIT!!”.  sontak aku kaget dan tak tertahankan lagi untuk masuk, ketika hendak aku membuka pintu itu. 3 detik lebih cepat suara wanita itu masuk ke gendang telingaku dan berkata ”jangan masuk!tetap disitu!!” suara itu urungkan niat ku sebelumnya. Aku kembali diam dan hanya bisa mendengar teriakan prisa yang semakin keras sambil menyebut namaku dan meminta tolong. Sampai pada klimaks, terdengar suara jeritan keras yang sangat berbeda dari teriakan-teriakan sebelumnya. Jantungku berhenti berdetak, nafasku lemah, darahku terhenti, aku mati sesaat. Lagi-lagi diam menyelimutiku, keadaan saat itu kembali sunyi. Kucari perlahan suara prisa, namun tak ada. Tiba-tiba pintu terbuka perlahan, dan wanita itu muncul dihadap ku dengan penuh peluh seraya berkata”dia mati kekurangan darah”dengan dingin tanpa dosa.
            Semuanya tak karuan, aku langsung masuk kekamar dan baru saat itu aku melihat seorang perempuan yang kucintai terbujur kaku,pucat dan penuh darah. Kuhampiri perlahan dan kuusap wajahnya dingin penuh peluh. Kupegang tanganya erat, kulihat darah segar yang ada tepat dibawah selangkangan kakinya. Ada sosok tak jelas apa, yang jelas terlihat seperti kepala,tangan,kaki manusia. Aku langsung berteriak ”bangun prisa!!” seraya keluar deras air mataku. Cacian terlontar mengarah ke wanita yang mengatakan prisa telah mati. Emosi membakar jiwaku, aku berlari menghampiri wanita keji itu. kucekik lehernya,dia memberikan perlawanan. Selanjutnya  kutendang perutnya, dia tersungkur. Ketika dia ingin pergi keluar rumahnya, kutarik rambutnya dan ku benturkan kepalanya kelantai sambil berteriak”kembalikan prisa!!”. wanita itu meronta kesakitan, namun perlahan suaranya habis dan sama sekali tak terdengar. Ketika sadar tanganku berlumur darah, lantai bercecer darah. Percaya tidak percaya aku telah membunuh wanita itu. Bukan main terkejutnya saat aku melihat wanita itu sudah tidak bernyawa lagi. ketakutan yang begitu besar menggerayangi tubuhku saat itu. seketika kuputuskan meninggalkan rumah wanita itu, aku lari sejauh-jauhnya meninggalkan wanita itu dan prisa.
            Dan pada akhirnya, aku sekarang berada didepan seorang kakek tua, yang telah menarik tubuhku sebelum aku menjatuhkan raga ini kebawah sungai senja itu. kakek tua renta berbadan bungkuk dan berjalan pincang, yang telah menyelamatkan seorang pria tolol yang harusnya tak penting untuk di diselamatkan.  Itu aku andreas tapilatu, anak dari seorang pengusaha besar terpandang yang tak pernah mendapat kasih sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar