Cerita untuk kawan
karya; Fachri Mahayupa
Senja itu begitu menyulutkan pikiranku yang kian buyar.
Langit biru kian memerah lantaran surya kian tenggelam oleh malam. Sekawanan burung
camar menari-nari diatas kepalaku tanpa ragu untuk turut meramaikan senja itu.
Suara hewan-hewan kecil pun perlahan terdengar melewati daun telingaku,
memberikan sentuhan melodi indah masuk kedalam otakku. Namun keindahan itu tak
mampu membuat pikiranku tenang. Semakin ingin ku nikmati, semakin kusut otakku
tak karuan. Senja yang seharusnya dapat dinikmati begitu indah, kulewati dengan
kesuraman yang mengambang dibenakku.
Aku
bukanlah aku yang seperti biasa, tak pernah rasanya aku sedemikian buruknya.
Tidak ada tanda-tanda yang menjelaskan aku hidup saat itu. Pikiranku sudah
dikuasai oleh banyaknya iblis yang terus merayuku, mataku kalap dan mulai
kehilangan cahayanya. Saat itu aku berada tepat ditengah jembatan yang membelah
sungai terluas di negaraku. Kulihat kebawah dalam, arus air saling berbenturan
satu sama lainya menambah kegalauan hatiku. Kupegang tiang dipinggiran dengan
kedua tanganku keras, semakin kutatap aliran arus yang tak beraturan itu. Tak
sadar tas yang kupikul dipunggungku tlah kulempar menuju sungai. Tak
membutuhkan waktu lama tas itu mendarat keatas hamparan air, tas itu terhempas menciptakan
percikan butiran air kecil dan merubah goyangan arus menjadi berbeda. Namun
hanya sesaat, setelahnya kembali seperti awal. Malah akupun kehilangan jejak
tasku yang entah kemana dibawa arus.
Tiba-tiba tak sadar bibir ku merekah tersenyum
nafsu, aku berpikir jika tubuh ini yang terhempas akan sama nasibnya seperti
halnya tasku itu. Tenggelam, terbawa, mengalir bersatu bersama aliran sungai
yang tak karuan. ”Haha..”tawa gila ku menyeruak. Aku tak tau mengapa terlintas
pikiran tolol seperti itu. Namun ketololan itu adalah suatu hal terbaik bagiku
saat itu. Karena sudah tak ada keinginan untukku hidup didunia yang serba rumit
dan tak karuan ini. Bagaimana tidak aku berpikiran seperti itu. Aku adalah
seorang pembunuh, tepatnya pembunuh seorang wanita yang kucintai dan satu lagi
nyawa lain yang ikut menjadi korban dari pembunuhanku. Kini aku adalah seorang
buronan kepolisian, aku adalah seorang pembunuh keji yang tega membunuh
kekasihku sendiri. Ketika itu semuanya tak terkontrol, kupukul pegangan tangan
pejalan kaki pinggir jembatan itu dengan tanganku. Darah keluar dari permukaan
kulit tangan ku. Kupandangi pegangan yang terkena darah, akhirnya muncuk ide
bodoh saat itu. Dan kegilaan ku pun berlanjut. Dengan bodohnya aku berkata”aku
ingin kau dengarkan aku becerita, setelah cerita itu selesai mungkin aku tak
kan lagi pernah kau lihat hahaha..”kepada pegangan itu.
Malam itu langit sangat gelap, bulan pun enggan
untuk memamerkan keindahannya. Dengan motor kebanggaan ku aku menjemput
kekasihku untuk bergegas menancap gas ke suatu daerah perkampungan di daerah
pinggir kotaku. Aku sudah mengikat janji dengan seorang wanita berumur sekitar
35 tahun disana. Sesampainya disana, kuparkir motorku didepan rumahnya yang
becek karena sehabis hujan sorenya. Aku lupa memperkenalkan kekasihku,dia
bernama frisa maharani 3 tahun lebih muda dariku. Perlahan aku masuk keteras
rumah, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terlihat senyum dingin wanita itu.
Spontan aku dan frisa kaget, frisa tambah takut dan mencengkram tanganku dengan
erat. Dari awal aku menjemputnya pun dia sudah terlihat takut, dan terus
memeluk ku dengan erat, tapi aku selalu berhasil menenangkannya.
Wanita itu menyuruh kami masuk dan duduk di sofa miliknya yang sudah bobrok
dan robek. Sedikit perbincangan pembuka yang aku sendiri lupa tepatnya aku
berpura-pura lupa dan ingin melupakan perbincangan itu. Yang hanya
bisa kukatakan pada saat itu aku mengeluarkan uang sebesar 5 juta dari tas ku
dan memberikannya pada wanita itu. Setelah itu prisa dibawanya kesebuah
kamar,ketika kuikuti dia menghentikan langkahku dan menyuruhku menunggu diluar
kamar. Air mata prisa sedikit terurai, isak kecilnya jelas terdengar
ditelingaku saat itu. Ketika pintu itu hampir tertutup, tiba-tiba dia keluar
dan meregapku dengan peluknya. Diciumnya keningku sambil menjinjitkan kakinya,
tak ingin tertinggal air matanya mengucur semakin deras, tangisannya
menyerempet basah mengenai wajahku. Aku tak dapat berkata,hanya bisa terpaku
melihat dia yang semakin menjauh dari pandanganku. Detik terakhir sebelum
semuanya hilang tertutup sebuah pintu, terdengar suara lirihnya berkata ”aku
mencintaimu”. Pintu pun tertutup, ragaku terpaku layaknya patung. Namun berbeda
jauh dengan hatiku yang galau dan tak tenang.
Detik banyak terlewati,
aku mulai menguasai ritme keadaan. Kosong dan sunyi saat itu, namun sedikit
mulai terdengar suara erengan kecil dari frisa. Kutempelkan telingaku kepintu
itu, erangan itu semakin kencang meraung. Aku tau dia pasti kesakitan, hati ini
menyuruh raga ini untuk mendobrak pintu itu. Tapi entah kenapa tidak sampai ke
otak ku saat itu. badanku tak bergerak sama sekali, hati ini terus mencoba
menyuruh kaki dan tangan ini bergerak. Namun nihil, yang ada di otak ku hanya
lah perkataan wanita itu yang tak memperbolehkanku masuk kedalam kamar itu.
Tapi ada sebuah pergantian
kondisi, semula prisa hanya mengerang. Namun saat itu dia berteriak memanggil
namaku, sambil berkata ”SAKIT!!”. sontak
aku kaget dan tak tertahankan lagi untuk masuk, ketika hendak aku membuka pintu
itu. 3 detik lebih cepat suara wanita itu masuk ke gendang telingaku dan
berkata ”jangan masuk!tetap disitu!!” suara itu urungkan niat ku sebelumnya.
Aku kembali diam dan hanya bisa mendengar teriakan prisa yang semakin keras
sambil menyebut namaku dan meminta tolong. Sampai pada klimaks, terdengar suara
jeritan keras yang sangat berbeda dari teriakan-teriakan sebelumnya. Jantungku
berhenti berdetak, nafasku lemah, darahku terhenti, aku mati sesaat. Lagi-lagi
diam menyelimutiku, keadaan saat itu kembali sunyi. Kucari perlahan suara
prisa, namun tak ada. Tiba-tiba pintu terbuka perlahan, dan wanita itu muncul
dihadap ku dengan penuh peluh seraya berkata”dia mati kekurangan darah”dengan
dingin tanpa dosa.
Semuanya tak karuan, aku
langsung masuk kekamar dan baru saat itu aku melihat seorang perempuan yang
kucintai terbujur kaku,pucat dan penuh darah. Kuhampiri perlahan dan kuusap
wajahnya dingin penuh peluh. Kupegang tanganya erat, kulihat darah segar yang
ada tepat dibawah selangkangan kakinya. Ada sosok tak jelas apa, yang jelas
terlihat seperti kepala,tangan,kaki manusia. Aku langsung berteriak ”bangun
prisa!!” seraya keluar deras air mataku. Cacian terlontar mengarah ke wanita
yang mengatakan prisa telah mati. Emosi membakar jiwaku, aku berlari
menghampiri wanita keji itu. kucekik lehernya,dia memberikan perlawanan.
Selanjutnya kutendang perutnya, dia
tersungkur. Ketika dia ingin pergi keluar rumahnya, kutarik rambutnya dan ku
benturkan kepalanya kelantai sambil berteriak”kembalikan prisa!!”. wanita itu
meronta kesakitan, namun perlahan suaranya habis dan sama sekali tak terdengar.
Ketika sadar tanganku berlumur darah, lantai bercecer darah. Percaya tidak
percaya aku telah membunuh wanita itu. Bukan main
terkejutnya saat aku melihat wanita itu sudah tidak bernyawa lagi. ketakutan
yang begitu besar menggerayangi tubuhku saat itu. seketika kuputuskan
meninggalkan rumah wanita itu, aku lari sejauh-jauhnya meninggalkan wanita itu
dan prisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar