SELAMAT DATANG

Jumat, 13 April 2012

MATAHARI DIBALIK JERUJI 13


MATAHARI DIBALIK JERUJI 13

Karya      : Fachri MahaYupa

Para pemain                         :
·         Daus                       : 30 tahun
·         Tari                         : 23 tahun
·         Ruji                         : 31 tahun
·         Kakek                     : sekitar 65 tahun
·         Ayah                       : 62 tahun
·         Mbok sananh        : 50 tahun
·         Paijo                       : 25 tahun
·         Daeng                    : 35 tahun
·         Lastri                      : 28 tahun
Set pangggung              :
o    Ruang tamu
o    Taman
o    Sebuah sudut ruang pengadilan
o    Kamar seorang gadis

”Berawal dari sebuah kisah sepasang kekasih berbeda kasta. Ada cinta, pengorbanan, kepercayaan, keputus-asaan, dendam, keterpurukan, penghujatan, ketidak adilan, kemunafikan, pembelaan, pembenaran, kenyataan, kebahagian, kecemburuan, terangkum dalam satu skenario utuh dan ada Sang Tuhan sebagai pengatur ritme seluruhnya. Membuat seorang pria paruh baya melantangkan kata ”butakah engkau hingga kau kirimkan aku dusta dibalik sebuah kebenaran!!””

babak 1
 Ruang tamu terdiri dari sofa beserta meja terhampar. Seorang bapak berumur beserta anak gadis dewasanya dan seorang pemuda.
Bapak: keluar! Atau mau kutembak kepalamu. Anak desa tak tahu malu! Kamu juga, sudah ayah bilang tidak pernah mau nurut! (menampar tari).
Daus  : (menangkap) maaf om! Lebih baik om tampar saya daripada menampar anak om sendiri...baiklah saya akan pergi. Tapi sebelumnnya tolong jangan menghina keluarga saya.. dan saya..mencintai tari.
Bapak: (melihat tari lalu keluar)
Tari     : mas daus...
Ruji masuk memeluk tari..
Tari     : ayah..tari mencintai mas daus! Aku tidak mengerti mengapa ayah sampai seperti tadi.
Ruji     : hanya butuh waktu saja adikku agar ayah mengerti.
Tari     : aku takut mas`daud..
Ruji     : ( memotong) abang percaya daus tak kan menyerah begitu saja. Abang tahu kalau dia sungguh sungguh mencintaimu, dan akan melakukan apapun agar dapat memilikimu (tersenyum).
 Lampu mati..
Scene 2
Malam hari di sebuah taman. Bangku taman panjang beserta kawan-kawan. Daus duduk menanti kedatangan seseorang. Gelisah, kaku, tak tenang tergambar dalam setiap mimiknya. Masuk ruji dengan elegan dan santai menghampiri daus.
Ruji      : wajah mu itu kusut sekali. Padahal sengaja aku datang rapi untuk mengantar adik ku padamu.
Daus   : tidak apa mas..
Ruji      : Bibirmu memang bisa berbohong, tapi wajah mu tak bisa berbohong padaku. Masalah ayah?
Daus   : (tersenyum pahit)
Ruji      : sudahlah, ayah memang seperti itu. Dia sangat menyayangi adik ku, dia satu-satunya wanita yang dimilikinya sekarang sejak sepeninggalnya ibu dulu. Kau harus bersabar, semuanya hanya butuh waktu.
Daus   : tapi masalahnya bukan hanya itu. sudahlah, maaf kemana tari mas ?
Ruji      : tari?adik ku yang manis itu?
Daus   : ya siapa lagi mas?
Ruji      : sabar..lagi di toilet barangkali, tadi dia bilang mau buang air.
Daus   : oh..tumben mas kau pakai sarung tangan?
Ruji      : dari ratih, oleh oleh dari jogja.
Tari masuk...
Tari      : maaf menunngu terlalu lama mas..
daus    : tidak apa..
ruji       : ayolah jangan kayak anak kecil! (merangkul keduanya) senyumlah barang sedikit. Nah, begitu kan enak. abang pergi dulu oke. (menghampiri daus dan barjabat tangan) Daus kau jaga adikku baik-baik! Lecet sedikit tak kan ku beri ampun kau. Antarkan dia pulang nanti, dan jangan terlaru larut.
Daus   : baik mas..
Tari      : jangan lupa beli obat ayah mas!
ruji       : (OS) oke honey..
            sepeninggal ruji, suasana kembali kaku..
daus    : Ayahmu..
tari       : mas berhenti! tari ingin minta maaf atas kejadian tadi malam terlebih dahulu. Tari sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Ayah memang temperamental selepas ibu pergi. Tari harap kau bisa mengerti mas. Butuh waktu mas agar dia mengerti tentang kita. Aku mencintainya mas, seperti aku mencintaimu...
Daus   : (senyum lalu hening)
Tari      : mas aku mencintaimu.
Daus   : (diam)
Tari      : tulus aku mencintaimu.
Daus   : (diam)
Tari      : percaya padaku mas. Ku mohon..
Daus   : walau aku pria berumur 30 tahun.
Tari      : mas..
Daus   : walau aku hanya seorang guru SD.
Tari      : mas
Daus   : walau aku anak dari desa?
Tari      : mas!
Daus   : anak dari seorang petani?
Tari      : sudahlah mas!!
Daus   : dan anak dari seorang penjahit?
Tari      : (tiba-tiba memeluk daus, dengan raut kepedihan) cukup mas, aku mohon! Aku mencintaimu walau umur mu 30 tahun, seorang guru SD, anak dari desa, anak dari petani dan penjahit! Aku mencintaimu mas (lirih). Aku mencintaimu!dirimu yang berada dipeluk ku saat ini. Bukan latar belakang hidup mu. Percayalah mas, percaya padaku..aku mohon.
Daus   : (melepas) aku pun demikan. Aku sungguh mencintaimu tulus. Begitu besar cinta ini untuk mu. Namun..entah mengapa aku menjadi begitu kerdil, saat ayah yang kau cintai  itu mengkerdilkan ku dihadapan mu. Lebih dari sebuah tamparan yang kurasakan saat itu di relung ini. Mengambil setengah jiwa yang sebelumnya berkobar dalam dada ku. Dan yang membuat semuanya semakin sesak, ketika dia menghujat kedua orang tua ku. Bapak ku memang petani dan ibuku memang penjahit. Haram kah pekerjaan mereka? Kotor kah? Sama kah mereka dengan para koruptor digedung sana!! Mereka berdua orang tuaku, orang tua yang membesarkan ku hingga saat ini. Terlebih lagi ayah ku sudah tidur pulas di peristirahatannya, mati! Bisa kah kau rasakan perasaan yang berkecamuk dalam hati ku.  Betapa hati ini seperti terbakar bara besar saat itu! Apa salah ku mencintaimu?coba jelaskan padaku!
Tari      : dia mencintaiku...
Daus   : kalau dia mencintaimu. Aku pun sama! Aku juga mencintaimu. Lantas kenapa dia tak bisa mengerti!?
Tari      : mas..
Daus   : (reflek mengelak hingga tari tersungkur)
Tari      :  (kesakitan)
Daus   : astaga bodohnya aku! iblis seperti apa yang ada dalam hati ini tuhan..maafkan aku.. Kamu tidak apa??maafkan aku..
Tari      : sudah mas, aku tidak apa. Sakit ini tak seberapa besar oleh sakit yang kau pendam di dalam sana (menunjuk dada daus). aku tahu kau begitu sangat mencintaiku, akupun demikan. Aku tidak bisa mengatakan kata selain sabar dan tunggulah ke padamu. Mas, masih ada tuhan yang maha melihat segalanya. Dan aku yakin dia mengintip kita disela bulan, bintang dan awan dilangit itu.
Daus   : aku begitu lemah sekarang, kau bagai air yang menentramkan jiwa yang tengah terbakar. kau bagai api yang menghangatkan ku dalam kekakuan. Bagai udara yang berikan nafas dalam tubuh ku. Akan ku lakukan apapun untuk terus bisa mencintaimu tari. Kau memang mentari..
Tari      : (tersenyum)
          Keduanya larut dalam cinta dan keheningan. Nuansa malam menghantarkan sejumlah romantika tersendiri
Scene 3
            Terdengar suara jam berdetak kencang memenuhi. Lampu menyala cepat. Terjadi pembunuhan, ayah tari terbunuh dengan sebilah pisau menembus perutnya. Auman kematian mengaum bersama matinya lampu.
Scene 4
          Lampu gelap. Terdengar suara detak jantung menyelimuti kekosongan panggung. Tak lama berselang hadir suara-suara orang-orang didalam ruangan pengadilan. Seorang hakim memukul palu keputusan untuk menenangkan ruang sidang.
Hakim : setelah melihat beberapa barang bukti yaitu sebilah pisau dapur dan sidik jari pelaku dan kesaksian dari saksi yang ada, serta berbagai macam alibi dan motif tersangka. Pada kasus pidana pembunuhan kategori berencana. Dengan korban bapak djaroet widodo, di kediamannya jl. Patimura no.13 komplek Ratindo. Sesuai dengan pasal 340 KUHP. Menetapkan saudara Matahari Firdaus sebagai pelaku pembunuhan berencana dan ditetapkan hukuman seumur hidup bagi pelaku. Senin, 13 desember 2009 Pengadilan pusat Jakarta.
            Daus berteriak tak karuan mengeluarkan pembelaan. Lampu perlahan menyala, disebuah latar bagian pengadilan. Daus dirangkul dan diseret 2 orang petugas. Perlawanan daus bisa menyentuh dan menggemgam tangan tari.
Daus   : tari percayalah padaku, Bukan aku yang membunuh ayah mu. Tari tolong aku! Tari... Aku mencintaimu, percaya padaku!
          Tari mau menyentuh wajah daus namun tamparan ruji jelas mendarat di wajah daus. Daus terdiam kaku, pandangan kosong menatap tari. Ruji member isyarat kepada petugas untuk membawa daus keluar. Tari menagis tak percaya dipelukan ruji.
Ruji      : pembunuh tak tahu malu! Jangan sekali lagi kau sebut nama adikku!
Tari      : mas daus membunuh ayah kita.
Ruji      : sudahlah..aku juga tak menyangka dia sampai tega membunuh ayah.
Tari      : tapi, tidak mungkin mas daud melakukannya. Aku kenal mas daud lebih dari siapapun.
Ruji      : semua sudah terkuak di pengadilan tadi. Semua bukti dan motif menunjukan daus sebagai seorang pelaku. Terimalah kenyataan ini. Dengarlah..Tak selamanya yang kau lihat dengan mata mu itu adalah kebenaran. Ada bagian yang tak bisa terjangkau oleh akal dan nalar manusia untuk melihat sosok asli manusia itu sendiri.
Tari      :  tapi aku mencintai..
Ruji      : sudahlah.. Lupakan daus! seorang pembunuh tak pantas bersanding dengan adikku.
Tari      : tidak mungkin! Aku percaya mas daus tapi...
Ruji      : sudahlah! Terima kenyataan ini! Dia itu pembunuh! Semuanya sudah jelas..lupakan dia!!
Tari      : (ketakutan)
Ruji      : maaf..abang tak bisa lagi menahan amarah ini. Sungguh sakit sekali ketika abang tahu daus telah membunuh ayah kita. Abang tahu perasaan mu sekarang sayang, tenanglah..masih ada abang disini untukmu..
            Tangisan membawanya keluar panggung.perlahan lampu mati.
Scene 5
          Lampu menyala. Ruang penjara didalamnya terdapat sebuah jeruji berukuran besar tak seperti biasanya.  Meja dan bangku petugas disampingnya. Musik mengalun mensugestikan ada sesuatu yang mencekam didalamnya. Terdengar suara petugas (Ptgs) dari kejauhan. Daus kembali kesetanan.
Ptgs 1  : jangan melawan! Paijo angkat kaki nya!
Ptgs2   : siap!
            Mereka masuk panggung dan melempar daus masuk jeruji hingga tersungkur.
Daus   :  aku sama sekali tidak bersalah!(teriak berulang-ulang)
Ptgs1   : diam!! Ribut sekali kau.
Daus   : petugas bangsat! Aku tidak bersalah! (memaki tak karuan)
Ptgs1   : apa kau bilang tadi?! Pembunuh sialan! Kau pikir aku takut kepadamu, hah!? Paijo buka sel itu dan keluarkan dia!
Ptgs2   : untuk apa bos?
Ptgs 1  : ndak usah banyak Tanya kau!  keluarkan saja pembunuh itu sekarang!
Ptgs 2  : baik bos !
Daus   : aku bukan pembunuh bangsat!!
Ptgs 1  : kau pikr dengan kau telah membunuh seseorang aku menjadi takut. Haha..jangan menyesal, disini akulah yang berkuasa. Paijo jaga tangannya jangan sampai lepas!
Daus   : mau apa kalian ?!
Ptgs1   : mau mengajari mu tata krama di tempat ini. Paijo kau kan baru disini, jadi lihat dan pelajari ini.(daeng memukul tepat diatas perut daud berulang-ulang)
Ptgs2   : bos, cukup! Kasihan dia, sudah tak berdaya.
Ptgs1   : jangan dilepas! Kalau kau melepasnya kau yang kuhajar. Jangan perlihatkan rasa kasihan mu di depan seorang pembunuh macam dia. Dia membunuh orang juga tanpa rasa belas kasihan. Aku sudah hapal dan berpengalaman menangani orang-orang seperti dia.
            Petugas itu terus memukuli daus hingga ia terkapar tak berdaya dilantai.
Ptgs1   : ku kira ini sudah cukup untuk pembelajaran buat pembunuh ini. Paijo, sekarang coba kau beri satu tendangan penutup.
Ptgs 2  : ndak tega bos, sudah tekapar kaya gitu. Entar yang ada malah mati orang itu.
Ptgs 1  : kau pikir aku bodoh dan tolol! Dia tak akan mati dengan satu tendangan. Cepat lakukan! Atau kau ingin ku..
Ptgs 2  : (memotong) baik bos! (paijo ingin menendang tapi tak jadi) kasihan bos, sudah merem orang ini. Sumpah bos demi allah!
Ptgs 1  : (melotot)
Ptgs 2  : i..i..i..ya bos (gugup). Maafin aku yo mas..(menendang tapi pelan)
Ptgs1   : kau itu laki apa banci?!atau kau sengaja mempermainkan aku,heh? Cepat tendang yang keras!
Ptgs2   : tidak bos, eh.. maksudnya siap laksanakan tugas. (paijo menendang sekuat tenaga).
Ptgs 1  : haha..bagus - bagus, sekarang masukan dia ke sel itu sekarang!
Ptgs 2  : baik bos!(menyeret daus ke sel) kok enak ya nendang orang? Tapi tetap aja kasihan.
Ptgs 1  : gimana jo perasaan mu sekarang?
Ptgs 2  : perasaan apa bos ?
Ptgs1   : ini kan kali pertama kau menangani napi di bui.
Ptgs 2  : apa ya? Perasaan ku sih dari tadi, bulu kuduk ku ini berdiri gag tau kenapa.
Ptgs1   : bukan itu songong! Tapi benar juga katamu itu. Bulu kuduk juga berdiri sendiri.
Ptgs2   : kenapa ya bos, jangan-jangan..(takut)
Ptgs1   : alah kamu itu jo! Kebanyakan nonton film horror. Jangan kayak banci gitu. Ayo cepat pergi dari sini.(melangkah keluar)
Ptgs 2  : katanya pemberani, dia malah kabur duluan.
            Terdengar suara aneh mengagetkan paijo. Ia lari tunggang langgang keluar. Sebagian lampu perlahan meredup namun tetap menyala. Mengalun suara kepedihan menyelubungi panggung. Dengan sisa tenaga daus berdiri, bahkan mungkin dibawah alam sadarnya.
Daus   : kenapa kau tak mempercayaiku tari? Kenapa kau tinggalkan aku ditempat yang sepi ini? Aku rela mati terkubur disini, asal kau mempercayaiku... Tuhan! Mengapa harus aku? Kurang kah aku menyembah mu? Melantunkan setiap asmamu. Kenapa kau hamparkan semua ini kepadaku, hah!? Kau telah merenggut hidup ku..cintaku.. Apa salah ku tuhan? Butakah engkau hingga kau kirimkan aku dusta di balik sebuah kebenaran. Katanya engkau maha melihat segalanya. Tapi mana?! Omong kosong! Segitu kecilnya kah aku hingga kau tak bisa melihat ku? Munafik! Bangsat! Hei..adakah yang bisa menolong ku? hei..ada kah yang bisa menolongku?! Jawab bangsat!!jangan diam saja seperti batu. Kalian pasti tau kan kebenarannya?! aku tidak membunuh. Aku bukan pembunuh! Iya kan ? iya kan? bangsat kalian semua! Manusia tak punya rasa prikemanusian dan perasaan. Manusia yang tega menyembunyikan kebenaran di depan matanya. Kenapa kalian puas dengan hanya diam seperti itu, hah?! Kalian bangsat!! Tari..tari..tari..percaya padaku..aku mencintaimu..
            Tiba-tiba dia jatuh mencium lantai. Lampu perlahan redup. Alunan suara kembali terdengar seiring padamnya lampu.
Scene 6
            Seorang penjaga wanita membawa makanan dan minuman, daeng dan paijo masuk. Daus masi tergeletak di lantai.
PW      : ini pasti ulah mu kan. tega sekali kau.
Daeng : (melotot)
PW      : apa yang kau lihat? Dadaku? Dasar Kurang ajar.
Daeng :  (menggoda)
Paijo    : besar..
PW      : orang orang tak tahu tata krama. Heh..kamu! kau lihat apa? Dadaku juga!
Paijo    : ndak mba...ndak salah lagi.
Daeng : alah..perempuan sok suci. Dengar las! Dimata ku kau sudah retak. Sudahlah tidak usah munafik. Aku sudah tak tahan. Ayo kita lakukan seperti biasa, kau diatas aku dibawah (tertawa).
Paijo    :apa itu bos?
Daeng : itu (memperagakan).
Paijo    ; oh.. ya ya ya ..(kaget) apah? bercinta..
PW      : cukup! Baiklah lagipula aku juga lagi kepingin. Tapi tetap kau harus bayar!
Daeng : itu masalah belakang. Ayo kita pergi.
Paijo    : kemana bos ?
Daeng : ke sungai! Dasar goblok! Cari tempat lah.
Paijo    : oke bos! Tapi saya?
PW      : (memotong) aku mau disini. Sekarang juga. Bagaimana? (mengitari daeng)
Paijo    : walah mba..disini banyak setan nya! Kemarin aku di beri tahu petugas piket. Kalau dulu ada napi yang mati gigit lidahnya sendiri terus mati. Ada yang mencekik lehernya sampai mati, serem deh pokoknya! Jeruji ini sudah lama tak di pakai, namun karena tak ada sel kosong lagi. terpaksa  dia di taruh disini. Kemarin saja saya dan bos..
PW      : laki-laki pengecut. Aku tahu tentang itu, tapi aku tak takut! Kalian mau tidak? Kalau tidak, aku juga bisa memuaskan diriku sendiri, atau pemuda yang di sel itu akan kubangunkan untuk memuaskan ku.
Daeng : jangan! siapa bilang aku takut,heh? Kau pasti menyesal berkata begitu pelacur! Akan ku buat sampai kau tidak bisa bicara.  
PW      : itu yang ku suka. Ayo kemari!
Paijo    : tapi bos, setannya..
Daeng : aku tak takut sama setan! Persetan dengan setan. (daeng menerjang petugas itu).
Mereka bergumul diluar panggung. Hanya suara yang pecah dimana-mana. Bau aneh muncul.
PW      : (teriak kesakitan) pelan-pelan!
Daeng : sudah! Kau diam dan nikmati saja.
Paijo    : bos..bos..bos..bau busuk! (takut)
Daeng : Itu bau kentut mu sendiri bodoh. Diam!
Paijo    :BOS..BOS..bulu kuduk ku bos.
Daeng : persetan!!
            Terdengar suara aneh mengagetkan mereka.
Paijo    : (teriak) bos, saya ijin ke toilet yah bos, sudah di ujung.selamat bersenang-senang (teriak lalu keluar)
Daeng : tunggu aku jo! (kabur)
PW      : kutang ku daeng! (kabur)
          Suasana berubah..Suara tawa kakek-kakek menggema, kemudian tersedak. Dia muncul dari balik selimut.
Kakek  : dasar manusia setan. Mesum tak melihat tempat dan waktu.
Kakek mengitari daus. tersenyum menyentuhnya. Kemudian mengambil air minum, lalu menyimburkannya kepada daus. daus terbangun.
Daus   : tari..tari..tari..(kaget melihat kakek di depan matanya). Siapa?? Darimana??
Kakek  : Dari tadi..(tertawa), kau tertidur seharian. Makanya ku bangunkan. tidak baik tidur terlalu lama.
Daus   : apa peduli mu! (mencoba bangkit, namun jatuh. Kakek mencoba membantu). Biar! Aku bisa sendiri!
Kakek  : yakin? Dari matamu, kau tak sungguh-sungguh berbicara seperti itu.
Daus   : kau tahu apa kek?
Kakek  : semua tentang mu dan juga matahari kecil dalam hati mu itu.
Daus   :  jangan membual di hadapan ku. Aku sudah kenyang dengan bualan para bangsat diluar sana.
Kakek  : sayang masih hijau, padahal umur mu sudah kepala tiga.
Daus   : kau..apa maksudmu?
Kakek  : tuhan tak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya.
Daus   : jangan bawa nama tuhan dihadapan ku. Aku muak! Dia palsu,dia dusta, dia buta, dia tiada.
Kakek  : kau lah yang dusta! Sekarang dia lagi melihat mu bodoh.
Daus   : (tertawa) melihat? Kau bilang melihat? Mana? Dimana dia?omong kosong! Kalau dia melihat ku mengapa dia membiarkan ku seperti ini, heh? Dia ambil semua hidup ku. Kau tahu!
Kakek  : itu karena dia menyayangimu.
Daus   : menyayangiku? Jangan buat aku tertawa pak tua! Aku tak kan terhibur dengan kata-kata mu. (menerawang) yang menyayangiku itu tari. Tapi dia telah hilang, dia tak mempercayai ku lagi. Dia meninggalkan ku ditempat yang bobrok ini. Dia Satu-satunya penyemangat hidupku. Tapi dia tak mencintai ku lagi. Itu gara-gara tuhan buta itu!
kakek  : itu dia lakukan karena cemburu terhadap mu.
DAUS  : cemburu? siapa??
Kakek  : tuhan.
Daus   : (tertawa) dasar kakek goblok! Jangan buat aku tertawa. Tuhan cemburu? Haha.. gila kau!
Kakek  : mentari..gadis yang cantik, berambut panjang, beralis tebal, hidung mancung, tahi lalat didagunya, dewasa, pandai, dan dia mencintaimu.
Daus   : katakan kepadaku! Darimana kau tahu mentari!
Kakek  : Matahari firdaus usia 30 tahun anak seorang petani dan penjahit dari desa.
Daus   : kakek sialan! Darimana kau tau itu semua?
Kakek  : Matahari firdaus, gadis cantik itu membuatnya cemburu.
Daus   : lantas apa aku salah mencintainya?
Kakek  : tidak. Tapi kau tetap salah..
Daus   : jangan permainkan ku!
Kakek  : sudah ku katakan dia cemburu padamu.
Daus   : siapa??
Kakek  : tuhan.
Daus   : Kenapa dia cemburu padaku?
Kakek  : kau mencintai gadis itu melebihi cintamu pada tuhan mu sendiri.
Daus   : setiap hari aku selalu menyembahnya, melantunkan asmanya. Apa itu tidak cukup??
Kakek  : apa perlu aku menjawabnya? Kupikir kau yang lebih tahu jawaban dari pertanyaan mu tadi.
Daus   : tapi mengapa harus seperti ini kek? Kau tahu, aku dituduh membunuh ayah dari gadis yang amat kucintai. padahal Aku sama sekali tidak melakukannya. Aku dihina semua orang, aku diberi gelar pembunuh. Seumur hidup harus hidup di sel sialan ini. Padahal aku sama sekali tidak melakukannya.
Kakek  : aku tahu. Kau memang tidak melakukannya.
Daus   : apa? kau percaya padaku kek?
Kakek  : ya..
Daus   : Darimana kau bisa tahu? Mengapa kau percaya pada ku?
Kakek  : dari matamu dan matahari kecil di hatimu ini.(menunjuk)
Daus   : jangan main-main kek! Mata? Matahari? Apa maksud semua itu?
Kakek  : sama sekali aku tidak main-main.  Dari matamu terlihat kejujuran hati.
daus    : tapi mengapa orang-orang diluar sana tidak melihatnya?
Kakek  : bukan tidak melihat tapi tak bisa melihatnya. Ada yang melihat, namun tak sanggup untuk mengungkapkan.
Daus   : kau orang pertama yang mempercayaiku. Aku bukan seorang pembunuh, karena bukan aku yang  membunuh.
Kakek  : bukan aku kok.
Daus   : kau kek. Kau orang pertama! Siapa lagi?
Kakek  : bukan
Daus   : lantas?
Kakek  : gadis yang kau cintai itu.
Daus   : (diam tak percaya)
Kakek  : apa perlu ku sebutkan namanya? Mentari astriana liliana.
Daus   : mentari..dia mempercayaiku? Tak mungkin kek. Dia meninggalkanku, tak lagi mempercayai ku.
Kakek  : sok tahu! Dia selau berdoa untuk mu bodoh.
Daus   : apa benar? darimana kau tahu?
Kakek  : doanya begitu tulus dan terdengar jelas. Sejelas surga yang dijanjikan tuhan pada hambanya. mengalir ikhlas sampai kepada sang tuhan.
Daus   : kau tak berbohong?
Kakek  : untuk apa aku berbohong. Dia begitu tabah dan yakin. Bukan sepertimu.
Daus   : bodohnya aku, iblis apa yang merasuk dalam jiwa ini. Mereka berhasil menggerogoti seluruh hati ku.
Kakek  : kau salah, ada satu tempat yang tak bisa terjangkau dari siapapun termasuk iblis yang kau bilang tadi. Nurani mu masih menyala terang saat hati mu gelap. Itulah matahari kecil yang ada di dalam hatimu. Sehingga seorang pak tua seperti ku dapat melihat secerca kejujuran dalam matamu. Angkat kepalamu nak, bangkitlah dari lubang itu.
Daus   : apa yang harus ku lakukan sekarang kek? Semua orang tak kan mungkin mempercayaiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi semuanya akan sia-sia.
Kakek  : siapa bilang? Dasar bodoh.
Daus   :  apa lagi yang bisa ku lakukan?
Kakek  :  tangan mu masih ada?
Daus   : ada..
Kakek  : mulut mu ada?
Daus   : ada..
Kakek  : tubuh mu lengkap?
Daus   : lengkap
Kakek  : hatimu ada?
Daus   : hati? aku tidak tahu..
Kakek  : pejamkan matamu,
Daus   : lalu?
Kakek  : pejamkanlah saja dulu! cari dan coba kau sentuh dia.
Days   : Tidak ada apa-apa.
Kakek  : jangan terburu-buru. Tenangkan seluruh pikiranmu. Dinginkan setiap emosi yang masih terbakar. Redam mereka agar tak lagi mencuat dalam pikiranmu.
Daus   : (menerawang)
Kakek  : apa yang kau rasakan? Coba katakan.
Daus   : sunyi, sepi dan tenang.
Kakek  : dia pasti berada disana. coba kau sentuh dia.
Daus   : baik..(membuka mata tak lama kemudian)
Kakek  : (tersenyum)
Daus   : damai..ya damai sekali kek. aku masih punya hati.  
Kakek  : bagus lah kalau begitu..
Daus   : terus aku harus apa lagi kek ?
Kakek  : apa perlu aku menjawabnya? Dasar bocah! Pakai tanganmu untuk mengadah, pakai mulutmu untuk mengucap, pakai seluruh badan mu untuk membuktikan dan pakai hatimu untuk menghadapnya.
Daus   : siapa?
Kakek  : tuhanmu.
Daus   : maafkan aku yang telah lalai melupakan mu.
Kakek  : sudah waktu shalat. Pakailah baju itu dulu. lalu bersuci lah.
            Lampu perlahan mati. Daus mengumandankan adzan. Lampu menyala saat mereka telah menyelesaikannya. Daus berdoa (suara daus rekaman).
Daus   : (dalam hati) ya allah tuhanku.. ampuni hamba atas segala kelalaian yang telah hamba lakukakan. Tiada penyelesan itu begitu besar bergetar dalam kalbu. Ya allah, jika ini memang jalan takdir yang kau goreskan untuk ku, ikhlas aku menerima dalam pengabdian ku kepadamu. Terimakasih telah mempertemukan ku kepada seseorang kakek tua yang berada didepan ku. Sungguh kiranya beliau telah menyelamatkan jiwa hambamu ini dari belenggu iblis yang sempat menelan ku. Dan jikalau hambamu ini boleh meminta, jagalah tari dan seluruh orang yang mencintai ku. Karena ku tahu, hanya kau tempat ku meminta dan memohon.
Kakek  : (dalam hati) dasar bodoh. Tapi yah paling tidak tugas ku telah selesai..
Daus   : (dalam hati) amin-amin Ya rabbal alamin.
Kakek  : (dalam hati) amiiin. Doamu terdengar sampai padanya wahai anakku.
Daus   : (mencium tangan kakek) apa jadinya kalau aku tak bertemu kau kek?
Kakek  : wahai anakku pertemuan kita itu adalah sebuah jalan takdir. Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Kuatkan cahaya dalam hatimu itu! Agar menjadi matahari yang sesungguhnya. Dan tak lagi tergoyahkan oleh siapapun. Sekarang istirahatlah.
Daus   : terimakasih kek.
            Lampu mati..
Scene 7
            Panggung terbagi dua, disatu sisi di dalam penjara. Disisi lain di sebuah ruangan. Daus dan mentari terlihat. Mereka baerdua melakukan gerakan yang sama.
Tari      : apa yang kau lakukan disana mas? Apa kau sedang duduk memikirkanku? Merindukanku? Andai saja kau tahu, disini tak henti aku memikirkanmu. Entah mengapa walau kenyataan itu pahit dimataku, aku tetap mempercayaimu. Aku tahu engkau mas, tak mungkin kau membunuh ayah. Hatiku memberontak setiap detiknya melawan kenyataan itu, entah darimana perasaan itu. Maafkan aku yang hanya bisa diam, sungguh aku tak bisa melakukan apa-apa saat kau berteriak memanggil namaku. Aku hanya bisa berdoa mengharapkan keajaiban dari tuhan untuk kita. Semoga kau baik-baik saja disana, dan bersabar menanti keajaiban itu datang.
Daus   : aku tak tahu tari sedang apa kau disana. Hatiku tak tenang, hingga mata ini tak mengijinkan ku menutupnya. Apa kau sedang memikirkan ku? Merindukanku? Maafkan aku yang sempat menganggapmu mati. Betapa bodohnya aku yang tak bisa mempercayaimu. Namun sekarang aku yakin, mungkin disana kau sedang memikirkan ku dan berdoa untukku. Hanya harap yang bisa tersampaikan pada sang tuhan agar kita bisa kembali bersama.
Tari      : aku merncintaimu mas percayalah..
Daus   : aku juga..astaga! Mentari..aku juga mencintaimu tari..
Tari      : mas daud? Mungkinkah? terimakasih tuhan..
            lampu perlahan mati, namun sesaat lampu menyala di ruang tari. Tari tengah terlelap. Datang pembantu..
mbok   : neng tari..bangun neng! Neng tari
tari       : ada apa mbok tengah malam begini? Ada maling?!
Mbok   : ssst..! jangan ribut, nanti tuan ruji bangun.
Tari      : memangnya kenapa dengan tuan ruji?
Mbok   : begini neng.
            Lampu perlahan padam. Mbok bercerita dan tari mendengerkannya seolah tak percaya. Lampu mati..
Scene 8
            Dipenjara daus shalat. Kakek tidur  diatas dipan dibalik selimutnya. Dari kejauhan terdengar suara meneriakan nama daud. Lampu menyala.. tari dan seorang penjaga masuk.
Tari      : (menangis) mas daud, akhirnya kita..
Daud   : apa aku bermimpi? apakah ini kau? Mentari.. Apakah kau nyata?
Tari      : benar mas! ini aku, aku nyata. Aku tari yang sekarang tengah kau hadapi.
Daud   : akhirnya kau disini, memelukku.
Tari      : aku mencintaimu. Maafkan aku yang tak ada di sisimu saat kau butuhkan aku. Maafkan aku yang tak bisa berbuat apa apa saat kau diseret ketempat ini. Maafkan aku..sungguh sebenarnya aku mempercayaimu mas.
Daus   : cukup tari! aku sudah melupakan hal itu. Kau ada dihadap ku sekarang saja, aku sudah sangat bahagia.
Tari      : tapi mas..
Daus   : sudahlah tari. Aku ikhlas disini jika memang itu sudah kehendak tuhan. Tapi percayalah padaku aku tidak membunuh ayahmu. Pengadilan boleh saja berkata kalau aku adalah pembunuh, asalkan bukan kau yang mengatakannya.
Tari      : kau bukan lah seorang pembunuh mas. kau bukanlah orang yang membunuh ayah ku. Bang ruji mas! bang ruji yang telah membunuh ayah.
Daus   : apa?? mas ruji?
Tari      : iya mas, dia yang mengambil pisau dapur dari rumah mu. Dia menyuap dan mengancam mbok sanah agar memberikan pengakuan palsu dipengadilan. Dan setelah diselidiki sidik jarimu di pisau itu, adalah perbuatannya. Entah dengan cara apa dia membuatnya. Tapi, Sekarang kau bebas mas! kau bukan lagi seorang pembunuh. Tapi kau Matahari firdaus, seseorang yang teramat kucintai.
Daus   : benarkah semua yang kau ucapkan tari? Terimakasih tuhan, kau telah menunjukan kebenaran dengan kuasamu.
Tari      : mas.. maafkan aku, kalau saja dulu..
Daus   : sudahlah tari, semuanya telah berlalu. lupakan lah..
Tari      : terimakasih...
Daus   : kenapa mas ruji tega melakukan itu tari?
            Bersamaan Tiba-tiba rujio masuk bersama penjaga, tangan ruji di pegang penjaga itu.
Ruji      : kau mau tahu daus?
Daus   : mas ruji?
Daeng : heh..bodoh! kemana aja kau!? Untung napi ini tidak ribut. Cepat keluarkan dia dari sel!
Paijo    : baik..(mengeluarkan daus)
Daeng : ambilkan baju tahanan kemari! Dia mau ditahan disini.
Ruji      : lepaskan! (berusaha melepas namun tak bisa). Aku lah yang membunuh ayah..
Daus   : mengapa kau tega Mebunuh ayahmu sendiri?
Ruji      : apa? ayah? Jangan bercanda! Dia bukan ayah ku bangsat! Aku ini bukan anaknya!
Tari      : kau adalah anaknya!
            Ruji melepaskan diri dari penjaga kemudian merangkul tari dan melilitkan borgol keleher tari..
Ruji      : diam kau! Diam! Diam! Diam! Kau bukan adikku! Aku ini hanya anak seorang supir ayah mu! Aku bukan anak dari seorang djaroet widodo! Aku ini bukan saudaramu, perempuan sial! Jangan ada yang bergerak! Atau perempuan in akan mati!
Daus   : jangan pak! Kurang ajar kau! Mau apa kau?!
Ruji      : hanya bermain sebentar saja. Iya kan gadis manis? Dengar ya manis, aku bukan kakakmu. Dan aku bukan putra djaroet widodo bangsat itu!!!
Tari      : meskipun begitu ayah sangat menyayangimu sebagai anaknya, dan akupun demikian bang.
Ruji      : diam bangsat! Ayah ku mati karena ayah mu yang sial itu. Ayahku mati karena menyelamatkan nyawa ayah mu. Ayah ku seorang bawahan yang baik, dan saking baiknya nyawanya pun ia korbankan pada bajingan itu. Karena ayah mu! Ayah ku mati menggantikannya tertabrak, padahal jika ia tak menolongnya ayahku pasti masih hidup sampai sekarang. Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri ia mendorong ayahmu yang tengah mabuk dan.. hasilnya ayahku tertabrak dan terseret mobil bajingan itu. Darah mengalir membasahi aspal, aku masih ingat warna darah yang terus mengalir tak henti itu. Aku yang masih kecil tak bisa berbuat apa-apa, yang ku tahu pandanganku hanya tertuju pada darah itu dan jasad ayah ku. Kau tahu bagaimana rasanya, seorang anak kecil melihat ayahnya mati di depan matanya sendiri. Di tambah lagi orang-orang bukan menolong ayahku tapi mereka sibuk menolong ayahmu itu! Sang konglomerat terpandang bajingan itu. Sejak saat itu, entah iblis darimana merasuk dalam setiap batang tubuhku. Peristiwa itu selalu terbayang disetiap malam ku. Pedih teramat pedih, kepedihan itu terus kurasakan dari aku kecil hingga saat ini! Kemarahan dalam hatiku terus terpupuk hari demi hari, menciptakan kebencian dan dendam pada suatu hari nanti. Dan tibalah saat itu, saat dimana aku bisa membunuh ayah bangsatmu itu dengan tanganku sendiri. Ketika aku sudah dipercaya, punya sebagian saham perusahaan milik ayahmu. Begitu indah saat kematiannya. Tusukan pertama dia menjerit, tusukan kedua semakin kencang dia menjerit, tusukan ketiga, ke empat, ke lima, tak dapat kudengar lagi jeritannya. namun hebatnaya dia masih bisa berbicara kau boleh membunuhku tapi jangan kau sentuh anakku haha.. sangat menggelikan, untung saja aku tidak mempunyai dendam terhadapmu wahai adikku. Membunuh ayah mu sudah cukup menentramkan kepuasanku. Maafkan aku selama ini telah berpura-pura menyayangimu (meludahi tari).
Tari      : mengapa kau tega melakukan itu kepada ayah?!
Daus   : kumohon mas, lepaskan tari.
Ruji      : apa? Melepaskannya? Enak saja! Kamu mencintainya daus? Kamu tidak ingin dia mati kan?
Daus   : akan kulakukan apapun, asal kau lepaskan tari!!
Ruji      : luar biasa! Sungguh pengorbanan cinta yang begitu besar. Sekarang buka bajumu! (daus melakukan apa saja yang diperintahkan ruji) celanamu! Angkat kedua tanganmu! Berjalanlah seperti kera dan katakanlah aku mencintainya mas, tolong lepaskan dia berulang ulang! Cepat!! ( tanpa diketahui ruji, paijo ada dibelakangnya) Haha...Maafkan aku kawan yang menjadikan mu korban dari pembalasan dendamku. Karena ku pikir kau orang yang cukup bodoh dan bisa kumanfaatkan untuk memperlancar segala urusanku! Sekarang kalau kau ingin dia hidup, bunuh petugas itu!!
Daus   : baiklah..
            Secepat kilat paijo menyergap ruji. Tari lepas dari tangan ruji, daus langsung menghajar ruji habis habisan. Para penjaga melerai mereka, tari menarik daus.
Ruji      : bangsat kalian semua! Lihat saja nanti, akan kubalas dendamku.
Daeng : cukup!! Jangankan balas dendam, melihatpun kau tak akan bisa. Kau akan disini seumur hidupmu kawan!!
Ruji      : diam kau!! Aku tak ada urusan dengan penjaga sepertimu.
Daeng : sayangnya aku punya urusan dengan anda! (daeng memukul ruji namun paijo dan tari menghentikannya)
Tari      : malam itu mbok sanah menceritakan semuanya padaku. Tentang kamu dan ayahmu. mbok sanah adalah saksi hidup perjalanan ayahmu dan ayahku. Ayahmu adalah seseorang yang baik hati, dia adalah teman baik ayahku sejak dia sekolah. Ayahmu selalu ditawari pekerjaan di kantor, tapi dia tetap menolaknya dan hanya ingin menjadi supir pribadi ayahku. Dengan alasan tidak bisa menerima kebaikan dari orang lain. Ayahmu pernah berhutang nyawa pada ayah ku. Dia pernah kehilangan banyak darah saat sebuah kecelakaan menimpanya. Dan satu-satunya yang mempunyai golongan darah yang sama adalah ayahku. Ayah mu terselamatkan dari maut saat itu. Semenjak itu ayahmu menjadi supir pribadi ayahku. Walaupun ayahku tak pernah sekalipun menganggap ayahmu supirnya. Sampai pada akhirnya, ayahmu menyelamatkan ayah ku pada peristiwa naas itu. Dan dia..
Ruji      : cukup!! Perempuan sial!! Kau berbohong!!
Tari      : mbok sanah yang menceritakan padaku bang!!
Ruji      : apa? Benarkah itu?   
Daeng : (melemparkan daus kedalam sel) cepat kunci!
Tari      : itu benar, aku tidak berbohong. Percayalah padaku..
Ruji      : keluar! Keluar! Keluar!!! Pergi dari hadapanku sekarang!!! Cepat!!
Daus   : sudahlah..biarkan saja dia, lebih baik kita pergi dari sini.
Ruji      : (petugas memegang erat kedua tangan ruji) bangsat kau tari!! Kau juga bangsaT!!(kepada daus) aku tidak percaya dengan bualan mu itu tari!! Ingat itu perempuan sial..bangsat!! keparat!! (berteriak-teriak)
Daeng : bisa diam tidak kau!
Paijio   : disini jeruji nomor 13 mas, Angker! Banyak setannya!!
Ruji      : perduli setan!
Paijo    : kayak kenal bos?
Ruji      : kalian juga! Pergi sana...!!
Daeng : biar sajalah orang itu dimakan setan. Cepat pergi dari sini, perasaan ku sudah mulai tak enak.
Ruji      : (berteriak- teriak)
Kakek  : ada penghuni baru rupanya? hei..selamat berjumpa.
Ruji      : siapa kamu??
Kakek  : (berubah menjadi seram)
Ruji      : (berteriak) SETAANNN!!!!!
            Lampu mati..
pementasan selesai..

Minggu,17 januari 2010
07.27 wita
Sekretariat Teater Yupa Unmul
Muhammad  Fachri Ramadhanie/ikun/D15



Matahari dibalik jeruji 13

Karya      : Fachri MahaYupa ”kunbo”

Para pemain                         :
·         Daus                       : 30 tahun
·         Tari                         : 23 tahun
·         Ruji                         : 31 tahun
·         Kakek                     : sekitar 65 tahun
·         Ayah                       : 62 tahun
·         Mbok sananh        : 50 tahun
·         Paijo                       : 25 tahun
·         Daeng                    : 35 tahun
·         Lastri                      : 28 tahun
Set pangggung              :
o    Ruang tamu
o    Taman
o    Sebuah sudut ruang pengadilan
o    Kamar seorang gadis

”Berawal dari sebuah kisah sepasang kekasih berbeda kasta. Ada cinta, pengorbanan, kepercayaan, keputus-asaan, dendam, keterpurukan, penghujatan, ketidak adilan, kemunafikan, pembelaan, pembenaran, kenyataan, kebahagian, kecemburuan, terangkum dalam satu skenario utuh dan ada Sang Tuhan sebagai pengatur ritme seluruhnya. Membuat seorang pria paruh baya melantangkan kata ”butakah engkau hingga kau kirimkan aku dusta dibalik sebuah kebenaran!!””

babak 1
 Ruang tamu terdiri dari sofa beserta meja terhampar. Seorang bapak berumur beserta anak gadis dewasanya dan seorang pemuda.
Bapak: keluar! Atau mau kutembak kepalamu. Anak desa tak tahu malu! Kamu juga, sudah ayah bilang tidak pernah mau nurut! (menampar tari).
Daus  : (menangkap) maaf om! Lebih baik om tampar saya daripada menampar anak om sendiri...baiklah saya akan pergi. Tapi sebelumnnya tolong jangan menghina keluarga saya.. dan saya..mencintai tari.
Bapak: (melihat tari lalu keluar)
Tari     : mas daus...
Ruji masuk memeluk tari..
Tari     : ayah..tari mencintai mas daus! Aku tidak mengerti mengapa ayah sampai seperti tadi.
Ruji     : hanya butuh waktu saja adikku agar ayah mengerti.
Tari     : aku takut mas`daud..
Ruji     : ( memotong) abang percaya daus tak kan menyerah begitu saja. Abang tahu kalau dia sungguh sungguh mencintaimu, dan akan melakukan apapun agar dapat memilikimu (tersenyum).
 Lampu mati..
Scene 2
Malam hari di sebuah taman. Bangku taman panjang beserta kawan-kawan. Daus duduk menanti kedatangan seseorang. Gelisah, kaku, tak tenang tergambar dalam setiap mimiknya. Masuk ruji dengan elegan dan santai menghampiri daus.
Ruji      : wajah mu itu kusut sekali. Padahal sengaja aku datang rapi untuk mengantar adik ku padamu.
Daus   : tidak apa mas..
Ruji      : Bibirmu memang bisa berbohong, tapi wajah mu tak bisa berbohong padaku. Masalah ayah?
Daus   : (tersenyum pahit)
Ruji      : sudahlah, ayah memang seperti itu. Dia sangat menyayangi adik ku, dia satu-satunya wanita yang dimilikinya sekarang sejak sepeninggalnya ibu dulu. Kau harus bersabar, semuanya hanya butuh waktu.
Daus   : tapi masalahnya bukan hanya itu. sudahlah, maaf kemana tari mas ?
Ruji      : tari?adik ku yang manis itu?
Daus   : ya siapa lagi mas?
Ruji      : sabar..lagi di toilet barangkali, tadi dia bilang mau buang air.
Daus   : oh..tumben mas kau pakai sarung tangan?
Ruji      : dari ratih, oleh oleh dari jogja.
Tari masuk...
Tari      : maaf menunngu terlalu lama mas..
daus    : tidak apa..
ruji       : ayolah jangan kayak anak kecil! (merangkul keduanya) senyumlah barang sedikit. Nah, begitu kan enak. abang pergi dulu oke. (menghampiri daus dan barjabat tangan) Daus kau jaga adikku baik-baik! Lecet sedikit tak kan ku beri ampun kau. Antarkan dia pulang nanti, dan jangan terlaru larut.
Daus   : baik mas..
Tari      : jangan lupa beli obat ayah mas!
ruji       : (OS) oke honey..
            sepeninggal ruji, suasana kembali kaku..
daus    : Ayahmu..
tari       : mas berhenti! tari ingin minta maaf atas kejadian tadi malam terlebih dahulu. Tari sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Ayah memang temperamental selepas ibu pergi. Tari harap kau bisa mengerti mas. Butuh waktu mas agar dia mengerti tentang kita. Aku mencintainya mas, seperti aku mencintaimu...
Daus   : (senyum lalu hening)
Tari      : mas aku mencintaimu.
Daus   : (diam)
Tari      : tulus aku mencintaimu.
Daus   : (diam)
Tari      : percaya padaku mas. Ku mohon..
Daus   : walau aku pria berumur 30 tahun.
Tari      : mas..
Daus   : walau aku hanya seorang guru SD.
Tari      : mas
Daus   : walau aku anak dari desa?
Tari      : mas!
Daus   : anak dari seorang petani?
Tari      : sudahlah mas!!
Daus   : dan anak dari seorang penjahit?
Tari      : (tiba-tiba memeluk daus, dengan raut kepedihan) cukup mas, aku mohon! Aku mencintaimu walau umur mu 30 tahun, seorang guru SD, anak dari desa, anak dari petani dan penjahit! Aku mencintaimu mas (lirih). Aku mencintaimu!dirimu yang berada dipeluk ku saat ini. Bukan latar belakang hidup mu. Percayalah mas, percaya padaku..aku mohon.
Daus   : (melepas) aku pun demikan. Aku sungguh mencintaimu tulus. Begitu besar cinta ini untuk mu. Namun..entah mengapa aku menjadi begitu kerdil, saat ayah yang kau cintai  itu mengkerdilkan ku dihadapan mu. Lebih dari sebuah tamparan yang kurasakan saat itu di relung ini. Mengambil setengah jiwa yang sebelumnya berkobar dalam dada ku. Dan yang membuat semuanya semakin sesak, ketika dia menghujat kedua orang tua ku. Bapak ku memang petani dan ibuku memang penjahit. Haram kah pekerjaan mereka? Kotor kah? Sama kah mereka dengan para koruptor digedung sana!! Mereka berdua orang tuaku, orang tua yang membesarkan ku hingga saat ini. Terlebih lagi ayah ku sudah tidur pulas di peristirahatannya, mati! Bisa kah kau rasakan perasaan yang berkecamuk dalam hati ku.  Betapa hati ini seperti terbakar bara besar saat itu! Apa salah ku mencintaimu?coba jelaskan padaku!
Tari      : dia mencintaiku...
Daus   : kalau dia mencintaimu. Aku pun sama! Aku juga mencintaimu. Lantas kenapa dia tak bisa mengerti!?
Tari      : mas..
Daus   : (reflek mengelak hingga tari tersungkur)
Tari      :  (kesakitan)
Daus   : astaga bodohnya aku! iblis seperti apa yang ada dalam hati ini tuhan..maafkan aku.. Kamu tidak apa??maafkan aku..
Tari      : sudah mas, aku tidak apa. Sakit ini tak seberapa besar oleh sakit yang kau pendam di dalam sana (menunjuk dada daus). aku tahu kau begitu sangat mencintaiku, akupun demikan. Aku tidak bisa mengatakan kata selain sabar dan tunggulah ke padamu. Mas, masih ada tuhan yang maha melihat segalanya. Dan aku yakin dia mengintip kita disela bulan, bintang dan awan dilangit itu.
Daus   : aku begitu lemah sekarang, kau bagai air yang menentramkan jiwa yang tengah terbakar. kau bagai api yang menghangatkan ku dalam kekakuan. Bagai udara yang berikan nafas dalam tubuh ku. Akan ku lakukan apapun untuk terus bisa mencintaimu tari. Kau memang mentari..
Tari      : (tersenyum)
          Keduanya larut dalam cinta dan keheningan. Nuansa malam menghantarkan sejumlah romantika tersendiri
Scene 3
            Terdengar suara jam berdetak kencang memenuhi. Lampu menyala cepat. Terjadi pembunuhan, ayah tari terbunuh dengan sebilah pisau menembus perutnya. Auman kematian mengaum bersama matinya lampu.
Scene 4
          Lampu gelap. Terdengar suara detak jantung menyelimuti kekosongan panggung. Tak lama berselang hadir suara-suara orang-orang didalam ruangan pengadilan. Seorang hakim memukul palu keputusan untuk menenangkan ruang sidang.
Hakim : setelah melihat beberapa barang bukti yaitu sebilah pisau dapur dan sidik jari pelaku dan kesaksian dari saksi yang ada, serta berbagai macam alibi dan motif tersangka. Pada kasus pidana pembunuhan kategori berencana. Dengan korban bapak djaroet widodo, di kediamannya jl. Patimura no.13 komplek Ratindo. Sesuai dengan pasal 340 KUHP. Menetapkan saudara Matahari Firdaus sebagai pelaku pembunuhan berencana dan ditetapkan hukuman seumur hidup bagi pelaku. Senin, 13 desember 2009 Pengadilan pusat Jakarta.
            Daus berteriak tak karuan mengeluarkan pembelaan. Lampu perlahan menyala, disebuah latar bagian pengadilan. Daus dirangkul dan diseret 2 orang petugas. Perlawanan daus bisa menyentuh dan menggemgam tangan tari.
Daus   : tari percayalah padaku, Bukan aku yang membunuh ayah mu. Tari tolong aku! Tari... Aku mencintaimu, percaya padaku!
          Tari mau menyentuh wajah daus namun tamparan ruji jelas mendarat di wajah daus. Daus terdiam kaku, pandangan kosong menatap tari. Ruji member isyarat kepada petugas untuk membawa daus keluar. Tari menagis tak percaya dipelukan ruji.
Ruji      : pembunuh tak tahu malu! Jangan sekali lagi kau sebut nama adikku!
Tari      : mas daus membunuh ayah kita.
Ruji      : sudahlah..aku juga tak menyangka dia sampai tega membunuh ayah.
Tari      : tapi, tidak mungkin mas daud melakukannya. Aku kenal mas daud lebih dari siapapun.
Ruji      : semua sudah terkuak di pengadilan tadi. Semua bukti dan motif menunjukan daus sebagai seorang pelaku. Terimalah kenyataan ini. Dengarlah..Tak selamanya yang kau lihat dengan mata mu itu adalah kebenaran. Ada bagian yang tak bisa terjangkau oleh akal dan nalar manusia untuk melihat sosok asli manusia itu sendiri.
Tari      :  tapi aku mencintai..
Ruji      : sudahlah.. Lupakan daus! seorang pembunuh tak pantas bersanding dengan adikku.
Tari      : tidak mungkin! Aku percaya mas daus tapi...
Ruji      : sudahlah! Terima kenyataan ini! Dia itu pembunuh! Semuanya sudah jelas..lupakan dia!!
Tari      : (ketakutan)
Ruji      : maaf..abang tak bisa lagi menahan amarah ini. Sungguh sakit sekali ketika abang tahu daus telah membunuh ayah kita. Abang tahu perasaan mu sekarang sayang, tenanglah..masih ada abang disini untukmu..
            Tangisan membawanya keluar panggung.perlahan lampu mati.
Scene 5
          Lampu menyala. Ruang penjara didalamnya terdapat sebuah jeruji berukuran besar tak seperti biasanya.  Meja dan bangku petugas disampingnya. Musik mengalun mensugestikan ada sesuatu yang mencekam didalamnya. Terdengar suara petugas (Ptgs) dari kejauhan. Daus kembali kesetanan.
Ptgs 1  : jangan melawan! Paijo angkat kaki nya!
Ptgs2   : siap!
            Mereka masuk panggung dan melempar daus masuk jeruji hingga tersungkur.
Daus   :  aku sama sekali tidak bersalah!(teriak berulang-ulang)
Ptgs1   : diam!! Ribut sekali kau.
Daus   : petugas bangsat! Aku tidak bersalah! (memaki tak karuan)
Ptgs1   : apa kau bilang tadi?! Pembunuh sialan! Kau pikir aku takut kepadamu, hah!? Paijo buka sel itu dan keluarkan dia!
Ptgs2   : untuk apa bos?
Ptgs 1  : ndak usah banyak Tanya kau!  keluarkan saja pembunuh itu sekarang!
Ptgs 2  : baik bos !
Daus   : aku bukan pembunuh bangsat!!
Ptgs 1  : kau pikr dengan kau telah membunuh seseorang aku menjadi takut. Haha..jangan menyesal, disini akulah yang berkuasa. Paijo jaga tangannya jangan sampai lepas!
Daus   : mau apa kalian ?!
Ptgs1   : mau mengajari mu tata krama di tempat ini. Paijo kau kan baru disini, jadi lihat dan pelajari ini.(daeng memukul tepat diatas perut daud berulang-ulang)
Ptgs2   : bos, cukup! Kasihan dia, sudah tak berdaya.
Ptgs1   : jangan dilepas! Kalau kau melepasnya kau yang kuhajar. Jangan perlihatkan rasa kasihan mu di depan seorang pembunuh macam dia. Dia membunuh orang juga tanpa rasa belas kasihan. Aku sudah hapal dan berpengalaman menangani orang-orang seperti dia.
            Petugas itu terus memukuli daus hingga ia terkapar tak berdaya dilantai.
Ptgs1   : ku kira ini sudah cukup untuk pembelajaran buat pembunuh ini. Paijo, sekarang coba kau beri satu tendangan penutup.
Ptgs 2  : ndak tega bos, sudah tekapar kaya gitu. Entar yang ada malah mati orang itu.
Ptgs 1  : kau pikir aku bodoh dan tolol! Dia tak akan mati dengan satu tendangan. Cepat lakukan! Atau kau ingin ku..
Ptgs 2  : (memotong) baik bos! (paijo ingin menendang tapi tak jadi) kasihan bos, sudah merem orang ini. Sumpah bos demi allah!
Ptgs 1  : (melotot)
Ptgs 2  : i..i..i..ya bos (gugup). Maafin aku yo mas..(menendang tapi pelan)
Ptgs1   : kau itu laki apa banci?!atau kau sengaja mempermainkan aku,heh? Cepat tendang yang keras!
Ptgs2   : tidak bos, eh.. maksudnya siap laksanakan tugas. (paijo menendang sekuat tenaga).
Ptgs 1  : haha..bagus - bagus, sekarang masukan dia ke sel itu sekarang!
Ptgs 2  : baik bos!(menyeret daus ke sel) kok enak ya nendang orang? Tapi tetap aja kasihan.
Ptgs 1  : gimana jo perasaan mu sekarang?
Ptgs 2  : perasaan apa bos ?
Ptgs1   : ini kan kali pertama kau menangani napi di bui.
Ptgs 2  : apa ya? Perasaan ku sih dari tadi, bulu kuduk ku ini berdiri gag tau kenapa.
Ptgs1   : bukan itu songong! Tapi benar juga katamu itu. Bulu kuduk juga berdiri sendiri.
Ptgs2   : kenapa ya bos, jangan-jangan..(takut)
Ptgs1   : alah kamu itu jo! Kebanyakan nonton film horror. Jangan kayak banci gitu. Ayo cepat pergi dari sini.(melangkah keluar)
Ptgs 2  : katanya pemberani, dia malah kabur duluan.
            Terdengar suara aneh mengagetkan paijo. Ia lari tunggang langgang keluar. Sebagian lampu perlahan meredup namun tetap menyala. Mengalun suara kepedihan menyelubungi panggung. Dengan sisa tenaga daus berdiri, bahkan mungkin dibawah alam sadarnya.
Daus   : kenapa kau tak mempercayaiku tari? Kenapa kau tinggalkan aku ditempat yang sepi ini? Aku rela mati terkubur disini, asal kau mempercayaiku... Tuhan! Mengapa harus aku? Kurang kah aku menyembah mu? Melantunkan setiap asmamu. Kenapa kau hamparkan semua ini kepadaku, hah!? Kau telah merenggut hidup ku..cintaku.. Apa salah ku tuhan? Butakah engkau hingga kau kirimkan aku dusta di balik sebuah kebenaran. Katanya engkau maha melihat segalanya. Tapi mana?! Omong kosong! Segitu kecilnya kah aku hingga kau tak bisa melihat ku? Munafik! Bangsat! Hei..adakah yang bisa menolong ku? hei..ada kah yang bisa menolongku?! Jawab bangsat!!jangan diam saja seperti batu. Kalian pasti tau kan kebenarannya?! aku tidak membunuh. Aku bukan pembunuh! Iya kan ? iya kan? bangsat kalian semua! Manusia tak punya rasa prikemanusian dan perasaan. Manusia yang tega menyembunyikan kebenaran di depan matanya. Kenapa kalian puas dengan hanya diam seperti itu, hah?! Kalian bangsat!! Tari..tari..tari..percaya padaku..aku mencintaimu..
            Tiba-tiba dia jatuh mencium lantai. Lampu perlahan redup. Alunan suara kembali terdengar seiring padamnya lampu.
Scene 6
            Seorang penjaga wanita membawa makanan dan minuman, daeng dan paijo masuk. Daus masi tergeletak di lantai.
PW      : ini pasti ulah mu kan. tega sekali kau.
Daeng : (melotot)
PW      : apa yang kau lihat? Dadaku? Dasar Kurang ajar.
Daeng :  (menggoda)
Paijo    : besar..
PW      : orang orang tak tahu tata krama. Heh..kamu! kau lihat apa? Dadaku juga!
Paijo    : ndak mba...ndak salah lagi.
Daeng : alah..perempuan sok suci. Dengar las! Dimata ku kau sudah retak. Sudahlah tidak usah munafik. Aku sudah tak tahan. Ayo kita lakukan seperti biasa, kau diatas aku dibawah (tertawa).
Paijo    :apa itu bos?
Daeng : itu (memperagakan).
Paijo    ; oh.. ya ya ya ..(kaget) apah? bercinta..
PW      : cukup! Baiklah lagipula aku juga lagi kepingin. Tapi tetap kau harus bayar!
Daeng : itu masalah belakang. Ayo kita pergi.
Paijo    : kemana bos ?
Daeng : ke sungai! Dasar goblok! Cari tempat lah.
Paijo    : oke bos! Tapi saya?
PW      : (memotong) aku mau disini. Sekarang juga. Bagaimana? (mengitari daeng)
Paijo    : walah mba..disini banyak setan nya! Kemarin aku di beri tahu petugas piket. Kalau dulu ada napi yang mati gigit lidahnya sendiri terus mati. Ada yang mencekik lehernya sampai mati, serem deh pokoknya! Jeruji ini sudah lama tak di pakai, namun karena tak ada sel kosong lagi. terpaksa  dia di taruh disini. Kemarin saja saya dan bos..
PW      : laki-laki pengecut. Aku tahu tentang itu, tapi aku tak takut! Kalian mau tidak? Kalau tidak, aku juga bisa memuaskan diriku sendiri, atau pemuda yang di sel itu akan kubangunkan untuk memuaskan ku.
Daeng : jangan! siapa bilang aku takut,heh? Kau pasti menyesal berkata begitu pelacur! Akan ku buat sampai kau tidak bisa bicara.  
PW      : itu yang ku suka. Ayo kemari!
Paijo    : tapi bos, setannya..
Daeng : aku tak takut sama setan! Persetan dengan setan. (daeng menerjang petugas itu).
Mereka bergumul diluar panggung. Hanya suara yang pecah dimana-mana. Bau aneh muncul.
PW      : (teriak kesakitan) pelan-pelan!
Daeng : sudah! Kau diam dan nikmati saja.
Paijo    : bos..bos..bos..bau busuk! (takut)
Daeng : Itu bau kentut mu sendiri bodoh. Diam!
Paijo    :BOS..BOS..bulu kuduk ku bos.
Daeng : persetan!!
            Terdengar suara aneh mengagetkan mereka.
Paijo    : (teriak) bos, saya ijin ke toilet yah bos, sudah di ujung.selamat bersenang-senang (teriak lalu keluar)
Daeng : tunggu aku jo! (kabur)
PW      : kutang ku daeng! (kabur)
          Suasana berubah..Suara tawa kakek-kakek menggema, kemudian tersedak. Dia muncul dari balik selimut.
Kakek  : dasar manusia setan. Mesum tak melihat tempat dan waktu.
Kakek mengitari daus. tersenyum menyentuhnya. Kemudian mengambil air minum, lalu menyimburkannya kepada daus. daus terbangun.
Daus   : tari..tari..tari..(kaget melihat kakek di depan matanya). Siapa?? Darimana??
Kakek  : Dari tadi..(tertawa), kau tertidur seharian. Makanya ku bangunkan. tidak baik tidur terlalu lama.
Daus   : apa peduli mu! (mencoba bangkit, namun jatuh. Kakek mencoba membantu). Biar! Aku bisa sendiri!
Kakek  : yakin? Dari matamu, kau tak sungguh-sungguh berbicara seperti itu.
Daus   : kau tahu apa kek?
Kakek  : semua tentang mu dan juga matahari kecil dalam hati mu itu.
Daus   :  jangan membual di hadapan ku. Aku sudah kenyang dengan bualan para bangsat diluar sana.
Kakek  : sayang masih hijau, padahal umur mu sudah kepala tiga.
Daus   : kau..apa maksudmu?
Kakek  : tuhan tak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya.
Daus   : jangan bawa nama tuhan dihadapan ku. Aku muak! Dia palsu,dia dusta, dia buta, dia tiada.
Kakek  : kau lah yang dusta! Sekarang dia lagi melihat mu bodoh.
Daus   : (tertawa) melihat? Kau bilang melihat? Mana? Dimana dia?omong kosong! Kalau dia melihat ku mengapa dia membiarkan ku seperti ini, heh? Dia ambil semua hidup ku. Kau tahu!
Kakek  : itu karena dia menyayangimu.
Daus   : menyayangiku? Jangan buat aku tertawa pak tua! Aku tak kan terhibur dengan kata-kata mu. (menerawang) yang menyayangiku itu tari. Tapi dia telah hilang, dia tak mempercayai ku lagi. Dia meninggalkan ku ditempat yang bobrok ini. Dia Satu-satunya penyemangat hidupku. Tapi dia tak mencintai ku lagi. Itu gara-gara tuhan buta itu!
kakek  : itu dia lakukan karena cemburu terhadap mu.
DAUS  : cemburu? siapa??
Kakek  : tuhan.
Daus   : (tertawa) dasar kakek goblok! Jangan buat aku tertawa. Tuhan cemburu? Haha.. gila kau!
Kakek  : mentari..gadis yang cantik, berambut panjang, beralis tebal, hidung mancung, tahi lalat didagunya, dewasa, pandai, dan dia mencintaimu.
Daus   : katakan kepadaku! Darimana kau tahu mentari!
Kakek  : Matahari firdaus usia 30 tahun anak seorang petani dan penjahit dari desa.
Daus   : kakek sialan! Darimana kau tau itu semua?
Kakek  : Matahari firdaus, gadis cantik itu membuatnya cemburu.
Daus   : lantas apa aku salah mencintainya?
Kakek  : tidak. Tapi kau tetap salah..
Daus   : jangan permainkan ku!
Kakek  : sudah ku katakan dia cemburu padamu.
Daus   : siapa??
Kakek  : tuhan.
Daus   : Kenapa dia cemburu padaku?
Kakek  : kau mencintai gadis itu melebihi cintamu pada tuhan mu sendiri.
Daus   : setiap hari aku selalu menyembahnya, melantunkan asmanya. Apa itu tidak cukup??
Kakek  : apa perlu aku menjawabnya? Kupikir kau yang lebih tahu jawaban dari pertanyaan mu tadi.
Daus   : tapi mengapa harus seperti ini kek? Kau tahu, aku dituduh membunuh ayah dari gadis yang amat kucintai. padahal Aku sama sekali tidak melakukannya. Aku dihina semua orang, aku diberi gelar pembunuh. Seumur hidup harus hidup di sel sialan ini. Padahal aku sama sekali tidak melakukannya.
Kakek  : aku tahu. Kau memang tidak melakukannya.
Daus   : apa? kau percaya padaku kek?
Kakek  : ya..
Daus   : Darimana kau bisa tahu? Mengapa kau percaya pada ku?
Kakek  : dari matamu dan matahari kecil di hatimu ini.(menunjuk)
Daus   : jangan main-main kek! Mata? Matahari? Apa maksud semua itu?
Kakek  : sama sekali aku tidak main-main.  Dari matamu terlihat kejujuran hati.
daus    : tapi mengapa orang-orang diluar sana tidak melihatnya?
Kakek  : bukan tidak melihat tapi tak bisa melihatnya. Ada yang melihat, namun tak sanggup untuk mengungkapkan.
Daus   : kau orang pertama yang mempercayaiku. Aku bukan seorang pembunuh, karena bukan aku yang  membunuh.
Kakek  : bukan aku kok.
Daus   : kau kek. Kau orang pertama! Siapa lagi?
Kakek  : bukan
Daus   : lantas?
Kakek  : gadis yang kau cintai itu.
Daus   : (diam tak percaya)
Kakek  : apa perlu ku sebutkan namanya? Mentari astriana liliana.
Daus   : mentari..dia mempercayaiku? Tak mungkin kek. Dia meninggalkanku, tak lagi mempercayai ku.
Kakek  : sok tahu! Dia selau berdoa untuk mu bodoh.
Daus   : apa benar? darimana kau tahu?
Kakek  : doanya begitu tulus dan terdengar jelas. Sejelas surga yang dijanjikan tuhan pada hambanya. mengalir ikhlas sampai kepada sang tuhan.
Daus   : kau tak berbohong?
Kakek  : untuk apa aku berbohong. Dia begitu tabah dan yakin. Bukan sepertimu.
Daus   : bodohnya aku, iblis apa yang merasuk dalam jiwa ini. Mereka berhasil menggerogoti seluruh hati ku.
Kakek  : kau salah, ada satu tempat yang tak bisa terjangkau dari siapapun termasuk iblis yang kau bilang tadi. Nurani mu masih menyala terang saat hati mu gelap. Itulah matahari kecil yang ada di dalam hatimu. Sehingga seorang pak tua seperti ku dapat melihat secerca kejujuran dalam matamu. Angkat kepalamu nak, bangkitlah dari lubang itu.
Daus   : apa yang harus ku lakukan sekarang kek? Semua orang tak kan mungkin mempercayaiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi semuanya akan sia-sia.
Kakek  : siapa bilang? Dasar bodoh.
Daus   :  apa lagi yang bisa ku lakukan?
Kakek  :  tangan mu masih ada?
Daus   : ada..
Kakek  : mulut mu ada?
Daus   : ada..
Kakek  : tubuh mu lengkap?
Daus   : lengkap
Kakek  : hatimu ada?
Daus   : hati? aku tidak tahu..
Kakek  : pejamkan matamu,
Daus   : lalu?
Kakek  : pejamkanlah saja dulu! cari dan coba kau sentuh dia.
Days   : Tidak ada apa-apa.
Kakek  : jangan terburu-buru. Tenangkan seluruh pikiranmu. Dinginkan setiap emosi yang masih terbakar. Redam mereka agar tak lagi mencuat dalam pikiranmu.
Daus   : (menerawang)
Kakek  : apa yang kau rasakan? Coba katakan.
Daus   : sunyi, sepi dan tenang.
Kakek  : dia pasti berada disana. coba kau sentuh dia.
Daus   : baik..(membuka mata tak lama kemudian)
Kakek  : (tersenyum)
Daus   : damai..ya damai sekali kek. aku masih punya hati.  
Kakek  : bagus lah kalau begitu..
Daus   : terus aku harus apa lagi kek ?
Kakek  : apa perlu aku menjawabnya? Dasar bocah! Pakai tanganmu untuk mengadah, pakai mulutmu untuk mengucap, pakai seluruh badan mu untuk membuktikan dan pakai hatimu untuk menghadapnya.
Daus   : siapa?
Kakek  : tuhanmu.
Daus   : maafkan aku yang telah lalai melupakan mu.
Kakek  : sudah waktu shalat. Pakailah baju itu dulu. lalu bersuci lah.
            Lampu perlahan mati. Daus mengumandankan adzan. Lampu menyala saat mereka telah menyelesaikannya. Daus berdoa (suara daus rekaman).
Daus   : (dalam hati) ya allah tuhanku.. ampuni hamba atas segala kelalaian yang telah hamba lakukakan. Tiada penyelesan itu begitu besar bergetar dalam kalbu. Ya allah, jika ini memang jalan takdir yang kau goreskan untuk ku, ikhlas aku menerima dalam pengabdian ku kepadamu. Terimakasih telah mempertemukan ku kepada seseorang kakek tua yang berada didepan ku. Sungguh kiranya beliau telah menyelamatkan jiwa hambamu ini dari belenggu iblis yang sempat menelan ku. Dan jikalau hambamu ini boleh meminta, jagalah tari dan seluruh orang yang mencintai ku. Karena ku tahu, hanya kau tempat ku meminta dan memohon.
Kakek  : (dalam hati) dasar bodoh. Tapi yah paling tidak tugas ku telah selesai..
Daus   : (dalam hati) amin-amin Ya rabbal alamin.
Kakek  : (dalam hati) amiiin. Doamu terdengar sampai padanya wahai anakku.
Daus   : (mencium tangan kakek) apa jadinya kalau aku tak bertemu kau kek?
Kakek  : wahai anakku pertemuan kita itu adalah sebuah jalan takdir. Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Kuatkan cahaya dalam hatimu itu! Agar menjadi matahari yang sesungguhnya. Dan tak lagi tergoyahkan oleh siapapun. Sekarang istirahatlah.
Daus   : terimakasih kek.
            Lampu mati..
Scene 7
            Panggung terbagi dua, disatu sisi di dalam penjara. Disisi lain di sebuah ruangan. Daus dan mentari terlihat. Mereka baerdua melakukan gerakan yang sama.
Tari      : apa yang kau lakukan disana mas? Apa kau sedang duduk memikirkanku? Merindukanku? Andai saja kau tahu, disini tak henti aku memikirkanmu. Entah mengapa walau kenyataan itu pahit dimataku, aku tetap mempercayaimu. Aku tahu engkau mas, tak mungkin kau membunuh ayah. Hatiku memberontak setiap detiknya melawan kenyataan itu, entah darimana perasaan itu. Maafkan aku yang hanya bisa diam, sungguh aku tak bisa melakukan apa-apa saat kau berteriak memanggil namaku. Aku hanya bisa berdoa mengharapkan keajaiban dari tuhan untuk kita. Semoga kau baik-baik saja disana, dan bersabar menanti keajaiban itu datang.
Daus   : aku tak tahu tari sedang apa kau disana. Hatiku tak tenang, hingga mata ini tak mengijinkan ku menutupnya. Apa kau sedang memikirkan ku? Merindukanku? Maafkan aku yang sempat menganggapmu mati. Betapa bodohnya aku yang tak bisa mempercayaimu. Namun sekarang aku yakin, mungkin disana kau sedang memikirkan ku dan berdoa untukku. Hanya harap yang bisa tersampaikan pada sang tuhan agar kita bisa kembali bersama.
Tari      : aku merncintaimu mas percayalah..
Daus   : aku juga..astaga! Mentari..aku juga mencintaimu tari..
Tari      : mas daud? Mungkinkah? terimakasih tuhan..
            lampu perlahan mati, namun sesaat lampu menyala di ruang tari. Tari tengah terlelap. Datang pembantu..
mbok   : neng tari..bangun neng! Neng tari
tari       : ada apa mbok tengah malam begini? Ada maling?!
Mbok   : ssst..! jangan ribut, nanti tuan ruji bangun.
Tari      : memangnya kenapa dengan tuan ruji?
Mbok   : begini neng.
            Lampu perlahan padam. Mbok bercerita dan tari mendengerkannya seolah tak percaya. Lampu mati..
Scene 8
            Dipenjara daus shalat. Kakek tidur  diatas dipan dibalik selimutnya. Dari kejauhan terdengar suara meneriakan nama daud. Lampu menyala.. tari dan seorang penjaga masuk.
Tari      : (menangis) mas daud, akhirnya kita..
Daud   : apa aku bermimpi? apakah ini kau? Mentari.. Apakah kau nyata?
Tari      : benar mas! ini aku, aku nyata. Aku tari yang sekarang tengah kau hadapi.
Daud   : akhirnya kau disini, memelukku.
Tari      : aku mencintaimu. Maafkan aku yang tak ada di sisimu saat kau butuhkan aku. Maafkan aku yang tak bisa berbuat apa apa saat kau diseret ketempat ini. Maafkan aku..sungguh sebenarnya aku mempercayaimu mas.
Daus   : cukup tari! aku sudah melupakan hal itu. Kau ada dihadap ku sekarang saja, aku sudah sangat bahagia.
Tari      : tapi mas..
Daus   : sudahlah tari. Aku ikhlas disini jika memang itu sudah kehendak tuhan. Tapi percayalah padaku aku tidak membunuh ayahmu. Pengadilan boleh saja berkata kalau aku adalah pembunuh, asalkan bukan kau yang mengatakannya.
Tari      : kau bukan lah seorang pembunuh mas. kau bukanlah orang yang membunuh ayah ku. Bang ruji mas! bang ruji yang telah membunuh ayah.
Daus   : apa?? mas ruji?
Tari      : iya mas, dia yang mengambil pisau dapur dari rumah mu. Dia menyuap dan mengancam mbok sanah agar memberikan pengakuan palsu dipengadilan. Dan setelah diselidiki sidik jarimu di pisau itu, adalah perbuatannya. Entah dengan cara apa dia membuatnya. Tapi, Sekarang kau bebas mas! kau bukan lagi seorang pembunuh. Tapi kau Matahari firdaus, seseorang yang teramat kucintai.
Daus   : benarkah semua yang kau ucapkan tari? Terimakasih tuhan, kau telah menunjukan kebenaran dengan kuasamu.
Tari      : mas.. maafkan aku, kalau saja dulu..
Daus   : sudahlah tari, semuanya telah berlalu. lupakan lah..
Tari      : terimakasih...
Daus   : kenapa mas ruji tega melakukan itu tari?
            Bersamaan Tiba-tiba rujio masuk bersama penjaga, tangan ruji di pegang penjaga itu.
Ruji      : kau mau tahu daus?
Daus   : mas ruji?
Daeng : heh..bodoh! kemana aja kau!? Untung napi ini tidak ribut. Cepat keluarkan dia dari sel!
Paijo    : baik..(mengeluarkan daus)
Daeng : ambilkan baju tahanan kemari! Dia mau ditahan disini.
Ruji      : lepaskan! (berusaha melepas namun tak bisa). Aku lah yang membunuh ayah..
Daus   : mengapa kau tega Mebunuh ayahmu sendiri?
Ruji      : apa? ayah? Jangan bercanda! Dia bukan ayah ku bangsat! Aku ini bukan anaknya!
Tari      : kau adalah anaknya!
            Ruji melepaskan diri dari penjaga kemudian merangkul tari dan melilitkan borgol keleher tari..
Ruji      : diam kau! Diam! Diam! Diam! Kau bukan adikku! Aku ini hanya anak seorang supir ayah mu! Aku bukan anak dari seorang djaroet widodo! Aku ini bukan saudaramu, perempuan sial! Jangan ada yang bergerak! Atau perempuan in akan mati!
Daus   : jangan pak! Kurang ajar kau! Mau apa kau?!
Ruji      : hanya bermain sebentar saja. Iya kan gadis manis? Dengar ya manis, aku bukan kakakmu. Dan aku bukan putra djaroet widodo bangsat itu!!!
Tari      : meskipun begitu ayah sangat menyayangimu sebagai anaknya, dan akupun demikian bang.
Ruji      : diam bangsat! Ayah ku mati karena ayah mu yang sial itu. Ayahku mati karena menyelamatkan nyawa ayah mu. Ayah ku seorang bawahan yang baik, dan saking baiknya nyawanya pun ia korbankan pada bajingan itu. Karena ayah mu! Ayah ku mati menggantikannya tertabrak, padahal jika ia tak menolongnya ayahku pasti masih hidup sampai sekarang. Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri ia mendorong ayahmu yang tengah mabuk dan.. hasilnya ayahku tertabrak dan terseret mobil bajingan itu. Darah mengalir membasahi aspal, aku masih ingat warna darah yang terus mengalir tak henti itu. Aku yang masih kecil tak bisa berbuat apa-apa, yang ku tahu pandanganku hanya tertuju pada darah itu dan jasad ayah ku. Kau tahu bagaimana rasanya, seorang anak kecil melihat ayahnya mati di depan matanya sendiri. Di tambah lagi orang-orang bukan menolong ayahku tapi mereka sibuk menolong ayahmu itu! Sang konglomerat terpandang bajingan itu. Sejak saat itu, entah iblis darimana merasuk dalam setiap batang tubuhku. Peristiwa itu selalu terbayang disetiap malam ku. Pedih teramat pedih, kepedihan itu terus kurasakan dari aku kecil hingga saat ini! Kemarahan dalam hatiku terus terpupuk hari demi hari, menciptakan kebencian dan dendam pada suatu hari nanti. Dan tibalah saat itu, saat dimana aku bisa membunuh ayah bangsatmu itu dengan tanganku sendiri. Ketika aku sudah dipercaya, punya sebagian saham perusahaan milik ayahmu. Begitu indah saat kematiannya. Tusukan pertama dia menjerit, tusukan kedua semakin kencang dia menjerit, tusukan ketiga, ke empat, ke lima, tak dapat kudengar lagi jeritannya. namun hebatnaya dia masih bisa berbicara kau boleh membunuhku tapi jangan kau sentuh anakku haha.. sangat menggelikan, untung saja aku tidak mempunyai dendam terhadapmu wahai adikku. Membunuh ayah mu sudah cukup menentramkan kepuasanku. Maafkan aku selama ini telah berpura-pura menyayangimu (meludahi tari).
Tari      : mengapa kau tega melakukan itu kepada ayah?!
Daus   : kumohon mas, lepaskan tari.
Ruji      : apa? Melepaskannya? Enak saja! Kamu mencintainya daus? Kamu tidak ingin dia mati kan?
Daus   : akan kulakukan apapun, asal kau lepaskan tari!!
Ruji      : luar biasa! Sungguh pengorbanan cinta yang begitu besar. Sekarang buka bajumu! (daus melakukan apa saja yang diperintahkan ruji) celanamu! Angkat kedua tanganmu! Berjalanlah seperti kera dan katakanlah aku mencintainya mas, tolong lepaskan dia berulang ulang! Cepat!! ( tanpa diketahui ruji, paijo ada dibelakangnya) Haha...Maafkan aku kawan yang menjadikan mu korban dari pembalasan dendamku. Karena ku pikir kau orang yang cukup bodoh dan bisa kumanfaatkan untuk memperlancar segala urusanku! Sekarang kalau kau ingin dia hidup, bunuh petugas itu!!
Daus   : baiklah..
            Secepat kilat paijo menyergap ruji. Tari lepas dari tangan ruji, daus langsung menghajar ruji habis habisan. Para penjaga melerai mereka, tari menarik daus.
Ruji      : bangsat kalian semua! Lihat saja nanti, akan kubalas dendamku.
Daeng : cukup!! Jangankan balas dendam, melihatpun kau tak akan bisa. Kau akan disini seumur hidupmu kawan!!
Ruji      : diam kau!! Aku tak ada urusan dengan penjaga sepertimu.
Daeng : sayangnya aku punya urusan dengan anda! (daeng memukul ruji namun paijo dan tari menghentikannya)
Tari      : malam itu mbok sanah menceritakan semuanya padaku. Tentang kamu dan ayahmu. mbok sanah adalah saksi hidup perjalanan ayahmu dan ayahku. Ayahmu adalah seseorang yang baik hati, dia adalah teman baik ayahku sejak dia sekolah. Ayahmu selalu ditawari pekerjaan di kantor, tapi dia tetap menolaknya dan hanya ingin menjadi supir pribadi ayahku. Dengan alasan tidak bisa menerima kebaikan dari orang lain. Ayahmu pernah berhutang nyawa pada ayah ku. Dia pernah kehilangan banyak darah saat sebuah kecelakaan menimpanya. Dan satu-satunya yang mempunyai golongan darah yang sama adalah ayahku. Ayah mu terselamatkan dari maut saat itu. Semenjak itu ayahmu menjadi supir pribadi ayahku. Walaupun ayahku tak pernah sekalipun menganggap ayahmu supirnya. Sampai pada akhirnya, ayahmu menyelamatkan ayah ku pada peristiwa naas itu. Dan dia..
Ruji      : cukup!! Perempuan sial!! Kau berbohong!!
Tari      : mbok sanah yang menceritakan padaku bang!!
Ruji      : apa? Benarkah itu?   
Daeng : (melemparkan daus kedalam sel) cepat kunci!
Tari      : itu benar, aku tidak berbohong. Percayalah padaku..
Ruji      : keluar! Keluar! Keluar!!! Pergi dari hadapanku sekarang!!! Cepat!!
Daus   : sudahlah..biarkan saja dia, lebih baik kita pergi dari sini.
Ruji      : (petugas memegang erat kedua tangan ruji) bangsat kau tari!! Kau juga bangsaT!!(kepada daus) aku tidak percaya dengan bualan mu itu tari!! Ingat itu perempuan sial..bangsat!! keparat!! (berteriak-teriak)
Daeng : bisa diam tidak kau!
Paijio   : disini jeruji nomor 13 mas, Angker! Banyak setannya!!
Ruji      : perduli setan!
Paijo    : kayak kenal bos?
Ruji      : kalian juga! Pergi sana...!!
Daeng : biar sajalah orang itu dimakan setan. Cepat pergi dari sini, perasaan ku sudah mulai tak enak.
Ruji      : (berteriak- teriak)
Kakek  : ada penghuni baru rupanya? hei..selamat berjumpa.
Ruji      : siapa kamu??
Kakek  : (berubah menjadi seram)
Ruji      : (berteriak) SETAANNN!!!!!
            Lampu mati..
pementasan selesai..

Minggu,17 januari 2010
07.27 wita
Sekretariat Teater Yupa Unmul
Muhammad  Fachri Ramadhanie/ikun/D15



Tidak ada komentar:

Posting Komentar