SELAMAT DATANG

Kamis, 26 April 2012

puasa - puisi kawan


Tang
oleh Fachri MahaYupa pada 20 Maret 2012 pukul 2:04 ·

kepada sayang yang jauh diepan mata
terhatur warna jomplang yang kian lepas kendali
ia berantakan ngalor -ngidul mengisi kekosongan rindu
ujar terkekang ingin merasa lagi perahu layar

"sebrang depan masih panjang
haluan kian terbentang
nahkoda siap menantang
bahaya pun siap menjelang
mati kemudian hidup kembali.."

"hebat bukan? ajaib bin mustahil
kaki masih terpampang
tangan siap menantang
tujuan telah terlentang
melintang menjamah seluruh rasa yang bilangnya kerontang"

sudah mau siang katanya
aku punya tang, masih punya?

Sip!
tidak boleh lambat datang
ayo lanjut bertukang...

untuk anak - anak

oleh Fachri MahaYupa pada 17 Oktober 2011 pukul 2:00 ·
wahai anak - anak ku..
ayah belum bisa mengambilkan bulan malam ini
karena ayah belum bisa terbang tinggi kesana
tinggi kesana itu jauh sekali
tapi ayah punya coklat manis untuk kalian....

wahai anak - anak ku..
ayah juga belum bisa ambilkan bintang malam ini
karena bintang lebih jauh daripada bulan
jangan sedih sayang
ayah punya kue bintang untuk kalian, pandai..

wahai anak - anak ku
lagi - lagi ayah pun belum bisa pelukan matahari untuk kalian
sungguh kalau saja kalian tahu
ayah bisa terbakar mati dan tak akan pulang lagi untuk kalian
sudah jangan cemberut nanti sore ayah akan bawa kalian melihat ia terbenam dipantai sana
tidak mau? tentu ayah tak lupa ice crime buat kalian

wahai anak - anak ku
walaupun langit lebih dekat dari bulan, bintang dan matahari
ayah tak sanggup membungkusnya untuk kalian
dia luas terbentang, bahkan ada 7 langit jika kalian tahu
lihatlah langit menangis sekarang karena ketidakberdayaan ayah kalian
ayah hanya punya sebuah permen gula, ambil dan bagilah! jangan lihat kemari..

wahai anak - anak ku
maafkanlah ayah kalian ini
ayah berjanji tidak akan berjanji lagi pada kalian
sudah cukup!

berlarilah sekencang kalian!
terbanglah setinggi yang kalian mau, gapai apa yang belum ayah capai
kelak kalian akan melangkah sendiri dengan gagah berani melawan dunia

namun, ingat satu pesan ayah,
jangan sekali - kali kalian berjanji
namun tepatilah apa yang terlintas dibenak kalian
karena ayah sudah jera dan tak ingin lagi berjanji...

ayah bawa film kesukaan kalian
kemarilah disamping ayah, mari kita tonton..
 kamu kenapa disitu? disana banyak hantu kalau kamu diam sendiri seperti itu
sini..! masih banyak tempat kosong..
eh, kamu geser sedikit..

wahai anak - anak ku bolehkah ayah tersenyum walau sedikit..
terimakasih

Di depan sana kawan
oleh Fachri MahaYupa pada 17 Oktober 2011 pukul 1:20 ·

kian merah menyalak terpanggang bara
bombardirlah dengan rudal terbesar
biarkan luka itu menjadi besar dan bernanah
biarkan kami rasakan perih tak terbalas
biarkan deras hujaman menusuk palung yang tak lagi tersentuh

hari kian habis
waktu terus merenggut
nyawa semakin tipis
kertaspun layu tergores pena merah

inilah saat yang tepat
bosan kami berdiam
pukul pantat kami yang manja
perlu sediakan ember penuh air

siram kami, bangunkan kami
mata ini juga ingin tak tidur
tubuh ini juga ingin mati rasa
telinga ini pun ingi berhenti mendengar keluh

ajak kami keneraka firdaus kalian
biarkan kami ikut andil dalm imaji tanpa batas
kami datang bukan untuk mati
hidup kemudian menjadi langkah

aaah...
akhirnya kumendengar, kumelihat, kurasakan panggilan
hangat tentramkan luka dan kepalsuan
temaramkan jiwa laksana perang
dewa pun bisa kita gulingkan

didepan nafas - nafas yang kian menderu
kupanjatkan sesongsong kata berisi makna usang tak lelah
kita akan telan sahara dan bakar antartika

di depan sana kawan
disana
di depan kawan
ya, kawan..
di depan sana..

Level Tiga Meter diatas Panggung
Karya : Fachri Mahayupa
Level satu meter..
Diam menerawang caur titik fokus
Sembari belah perlahan, rasa nano – nano..
Kembali nol, merekam video enam warna
Kadang coklat, elus jemari menghantar sanubari cerita
Bisa saja obat direnguk tubuh, cuka darah..
Belajar,

Level dua meter..
Liar tunjuk langit hingga antero semesta
Menuahkan buku penuh tepat diatas satu titik, mencoba..
Kembali kecap asin – manis dijalan rindang
Kelak kelok semai pun tiba, menari palu dan tembak..
Nukang,

Level tiga meter..
Masih  tiga bagi empat jalan  finish namun, wajib
Harus seratus tanpa ada bagi, siap
Gesture atas dialog bawah tengah rasa jalan vertikal, harus
Bajak lagi bijak lagi, sulit

Jadi dalam,
Setelahnya Panggung
Penuh rasa luruh cinta ada yakin tiada akhir, kemudian setia

Selamat mencicipi..

Secangkir teh panas,
24 mei 2012




2 komentar: