SELAMAT DATANG

Sabtu, 28 April 2012

puisi LAGI

tks bang gondrong

oleh Fachri MahaYupa pada 17 Oktober 2011 pukul 0:37 ·
ku pilin rambut basah hingga air tetes menempa bumi
lepas bebrapa helai terbawa aliran hilir ke lubang hitam sudut
cerca kain tebal menggilas tumpukan hitam mereka
sesekali terputar kusut nun artistik, lucu..

akhirnya kurebahkan tengkuk, ia menjuntai bebas
parasnya hawa nampak temaram sayu
kali ini kupiting bolak - balik
mereka lemah sekarang, aku menang

akhirnya keluar dari ruang petak, bebas
angin menyambut girang menyelinap disela rongga terasa
semakin asik mengucek kadang kaca jendela turut jadi korban
mesem tak karuan geli meradang

ya..ya..ya..
gagah juga!

terimakasih bang gondrong..

gelap

oleh Fachri MahaYupa pada 5 Agustus 2011 pukul 21:40 ·
GELAP

kusungsung gelap dalam harmoni pagi
diantara reremputan kembang sayu di pelupuk mata
larapun deras menerpa batuan karang jingga
sesekali menengok asa,
tentang karsa yang tak lagi berasa
kulibaskan gendera mendera pawai
terhimpit sempit menatap selempit intip

dimana andai memuai lindu
dimana harap memuja pantat
dimana doa yang tak kunjung mendaratl

kini masih kusungsung gelap itu,
sampai kapan?
pertanyaan bodoh melahirkan jawaban bodoh

gelap.

kopi

oleh Fachri MahaYupa pada 5 Agustus 2011 pukul 18:51 ·
sekotak kurma premium disamping kiri
sebuah handpone klasik disamping kanan
dikiri ada lagi remote Tv bermerek super, tak lupa sebotol air putih
dikanan juga ada naskah entah apa, lupa! ada uang tiga ribu dibawah gantungan panda

depan laptop mungil
belakang kasur tingkat dua
kabel tak karuan menggupal liar, gitar custom tua yang rindu dipetik
lemari dengan ratusan buku- buku tertata rapi,baju bergantung tak tahu tempat

IDIOT!!!!!

apa lagi!? masih ada! ada pasti! pasti ada!
kucing, kupu - kupu, kodok, semut, binatang!

Sial, aku lupa kopi!

kopi? hemmm..........

dangdut

oleh Fachri MahaYupa pada 5 Agustus 2011 pukul 18:37 ·

surga itu tak bergeming saat paruh, dangdut
tersiram jejak kuda pacuan lintas di sebuah gang kecil
kudelik bola keluar nanah mewangi, hasut
pelan mengukir syahdu luruh

diatas reruntuhan limbah ku dendang sebuah lagu dangdut, puncak
ku angkat serpihan rasa menggoyang seluruh dahaga
maju mundur kanan kiri atas bawah, lepas
kemudian merunduk lesu menggapai tanah basah menggumpal raga

terimakasih, dangdut

dongeng

oleh Fachri MahaYupa pada 4 Agustus 2011 pukul 18:34 ·

senja kelabu menuai asa yang semu
otak tersentak hati tersedak pil buah neraka
terambung menghilir ku terangai dalam hening buta
sejenak luruh membatu muncrat dalam telaga ranum memerah

cukup..hentikan!

kini dongeng menjelma pudar lantah
aku tegak didepan kau yang tersayang, meminta restu..
untuk pergi dan pasti kembali
tunggu, kan kupeluk kau bersama bintang yang akan kubawa!

senyum..hening..memudar..



Kamis, 26 April 2012

puasa - puisi kawan


Tang
oleh Fachri MahaYupa pada 20 Maret 2012 pukul 2:04 ·

kepada sayang yang jauh diepan mata
terhatur warna jomplang yang kian lepas kendali
ia berantakan ngalor -ngidul mengisi kekosongan rindu
ujar terkekang ingin merasa lagi perahu layar

"sebrang depan masih panjang
haluan kian terbentang
nahkoda siap menantang
bahaya pun siap menjelang
mati kemudian hidup kembali.."

"hebat bukan? ajaib bin mustahil
kaki masih terpampang
tangan siap menantang
tujuan telah terlentang
melintang menjamah seluruh rasa yang bilangnya kerontang"

sudah mau siang katanya
aku punya tang, masih punya?

Sip!
tidak boleh lambat datang
ayo lanjut bertukang...

untuk anak - anak

oleh Fachri MahaYupa pada 17 Oktober 2011 pukul 2:00 ·
wahai anak - anak ku..
ayah belum bisa mengambilkan bulan malam ini
karena ayah belum bisa terbang tinggi kesana
tinggi kesana itu jauh sekali
tapi ayah punya coklat manis untuk kalian....

wahai anak - anak ku..
ayah juga belum bisa ambilkan bintang malam ini
karena bintang lebih jauh daripada bulan
jangan sedih sayang
ayah punya kue bintang untuk kalian, pandai..

wahai anak - anak ku
lagi - lagi ayah pun belum bisa pelukan matahari untuk kalian
sungguh kalau saja kalian tahu
ayah bisa terbakar mati dan tak akan pulang lagi untuk kalian
sudah jangan cemberut nanti sore ayah akan bawa kalian melihat ia terbenam dipantai sana
tidak mau? tentu ayah tak lupa ice crime buat kalian

wahai anak - anak ku
walaupun langit lebih dekat dari bulan, bintang dan matahari
ayah tak sanggup membungkusnya untuk kalian
dia luas terbentang, bahkan ada 7 langit jika kalian tahu
lihatlah langit menangis sekarang karena ketidakberdayaan ayah kalian
ayah hanya punya sebuah permen gula, ambil dan bagilah! jangan lihat kemari..

wahai anak - anak ku
maafkanlah ayah kalian ini
ayah berjanji tidak akan berjanji lagi pada kalian
sudah cukup!

berlarilah sekencang kalian!
terbanglah setinggi yang kalian mau, gapai apa yang belum ayah capai
kelak kalian akan melangkah sendiri dengan gagah berani melawan dunia

namun, ingat satu pesan ayah,
jangan sekali - kali kalian berjanji
namun tepatilah apa yang terlintas dibenak kalian
karena ayah sudah jera dan tak ingin lagi berjanji...

ayah bawa film kesukaan kalian
kemarilah disamping ayah, mari kita tonton..
 kamu kenapa disitu? disana banyak hantu kalau kamu diam sendiri seperti itu
sini..! masih banyak tempat kosong..
eh, kamu geser sedikit..

wahai anak - anak ku bolehkah ayah tersenyum walau sedikit..
terimakasih

Di depan sana kawan
oleh Fachri MahaYupa pada 17 Oktober 2011 pukul 1:20 ·

kian merah menyalak terpanggang bara
bombardirlah dengan rudal terbesar
biarkan luka itu menjadi besar dan bernanah
biarkan kami rasakan perih tak terbalas
biarkan deras hujaman menusuk palung yang tak lagi tersentuh

hari kian habis
waktu terus merenggut
nyawa semakin tipis
kertaspun layu tergores pena merah

inilah saat yang tepat
bosan kami berdiam
pukul pantat kami yang manja
perlu sediakan ember penuh air

siram kami, bangunkan kami
mata ini juga ingin tak tidur
tubuh ini juga ingin mati rasa
telinga ini pun ingi berhenti mendengar keluh

ajak kami keneraka firdaus kalian
biarkan kami ikut andil dalm imaji tanpa batas
kami datang bukan untuk mati
hidup kemudian menjadi langkah

aaah...
akhirnya kumendengar, kumelihat, kurasakan panggilan
hangat tentramkan luka dan kepalsuan
temaramkan jiwa laksana perang
dewa pun bisa kita gulingkan

didepan nafas - nafas yang kian menderu
kupanjatkan sesongsong kata berisi makna usang tak lelah
kita akan telan sahara dan bakar antartika

di depan sana kawan
disana
di depan kawan
ya, kawan..
di depan sana..

Level Tiga Meter diatas Panggung
Karya : Fachri Mahayupa
Level satu meter..
Diam menerawang caur titik fokus
Sembari belah perlahan, rasa nano – nano..
Kembali nol, merekam video enam warna
Kadang coklat, elus jemari menghantar sanubari cerita
Bisa saja obat direnguk tubuh, cuka darah..
Belajar,

Level dua meter..
Liar tunjuk langit hingga antero semesta
Menuahkan buku penuh tepat diatas satu titik, mencoba..
Kembali kecap asin – manis dijalan rindang
Kelak kelok semai pun tiba, menari palu dan tembak..
Nukang,

Level tiga meter..
Masih  tiga bagi empat jalan  finish namun, wajib
Harus seratus tanpa ada bagi, siap
Gesture atas dialog bawah tengah rasa jalan vertikal, harus
Bajak lagi bijak lagi, sulit

Jadi dalam,
Setelahnya Panggung
Penuh rasa luruh cinta ada yakin tiada akhir, kemudian setia

Selamat mencicipi..

Secangkir teh panas,
24 mei 2012




cerpan - cerpen kawan




Cerita untuk kawan
karya; Fachri Mahayupa

Senja itu begitu menyulutkan pikiranku yang kian buyar. Langit biru kian memerah lantaran surya kian tenggelam oleh malam. Sekawanan burung camar menari-nari diatas kepalaku tanpa ragu untuk turut meramaikan senja itu. Suara hewan-hewan kecil pun perlahan terdengar melewati daun telingaku, memberikan sentuhan melodi indah masuk kedalam otakku. Namun keindahan itu tak mampu membuat pikiranku tenang. Semakin ingin ku nikmati, semakin kusut otakku tak karuan. Senja yang seharusnya dapat dinikmati begitu indah, kulewati dengan kesuraman yang mengambang dibenakku.
 Aku bukanlah aku yang seperti biasa, tak pernah rasanya aku sedemikian buruknya. Tidak ada tanda-tanda yang menjelaskan aku hidup saat itu. Pikiranku sudah dikuasai oleh banyaknya iblis yang terus merayuku, mataku kalap dan mulai kehilangan cahayanya. Saat itu aku berada tepat ditengah jembatan yang membelah sungai terluas di negaraku. Kulihat kebawah dalam, arus air saling berbenturan satu sama lainya menambah kegalauan hatiku. Kupegang tiang dipinggiran dengan kedua tanganku keras, semakin kutatap aliran arus yang tak beraturan itu. Tak sadar tas yang kupikul dipunggungku tlah kulempar menuju sungai. Tak membutuhkan waktu lama tas itu mendarat keatas hamparan air, tas itu terhempas menciptakan percikan butiran air kecil dan merubah goyangan arus menjadi berbeda. Namun hanya sesaat, setelahnya kembali seperti awal. Malah akupun kehilangan jejak tasku yang entah kemana dibawa arus.
Tiba-tiba tak sadar bibir ku merekah tersenyum nafsu, aku berpikir jika tubuh ini yang terhempas akan sama nasibnya seperti halnya tasku itu. Tenggelam, terbawa, mengalir bersatu bersama aliran sungai yang tak karuan. ”Haha..”tawa gila ku menyeruak. Aku tak tau mengapa terlintas pikiran tolol seperti itu. Namun ketololan itu adalah suatu hal terbaik bagiku saat itu. Karena sudah tak ada keinginan untukku hidup didunia yang serba rumit dan tak karuan ini. Bagaimana tidak aku berpikiran seperti itu. Aku adalah seorang pembunuh, tepatnya pembunuh seorang wanita yang kucintai dan satu lagi nyawa lain yang ikut menjadi korban dari pembunuhanku. Kini aku adalah seorang buronan kepolisian, aku adalah seorang pembunuh keji yang tega membunuh kekasihku sendiri. Ketika itu semuanya tak terkontrol, kupukul pegangan tangan pejalan kaki pinggir jembatan itu dengan tanganku. Darah keluar dari permukaan kulit tangan ku. Kupandangi pegangan yang terkena darah, akhirnya muncuk ide bodoh saat itu. Dan kegilaan ku pun berlanjut. Dengan bodohnya aku berkata”aku ingin kau dengarkan aku becerita, setelah cerita itu selesai mungkin aku tak kan lagi pernah kau lihat hahaha..”kepada pegangan itu.
Malam itu langit sangat gelap, bulan pun enggan untuk memamerkan keindahannya. Dengan motor kebanggaan ku aku menjemput kekasihku untuk bergegas menancap gas ke suatu daerah perkampungan di daerah pinggir kotaku. Aku sudah mengikat janji dengan seorang wanita berumur sekitar 35 tahun disana. Sesampainya disana, kuparkir motorku didepan rumahnya yang becek karena sehabis hujan sorenya. Aku lupa memperkenalkan kekasihku,dia bernama frisa maharani 3 tahun lebih muda dariku. Perlahan aku masuk keteras rumah, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terlihat senyum dingin wanita itu. Spontan aku dan frisa kaget, frisa tambah takut dan mencengkram tanganku dengan erat. Dari awal aku menjemputnya pun dia sudah terlihat takut, dan terus memeluk ku dengan erat, tapi aku selalu berhasil menenangkannya.
Wanita itu menyuruh kami masuk dan duduk di sofa miliknya yang sudah bobrok dan robek. Sedikit perbincangan pembuka yang aku sendiri lupa tepatnya aku berpura-pura lupa dan ingin melupakan perbincangan itu. Yang hanya bisa kukatakan pada saat itu aku mengeluarkan uang sebesar 5 juta dari tas ku dan memberikannya pada wanita itu. Setelah itu prisa dibawanya kesebuah kamar,ketika kuikuti dia menghentikan langkahku dan menyuruhku menunggu diluar kamar. Air mata prisa sedikit terurai, isak kecilnya jelas terdengar ditelingaku saat itu. Ketika pintu itu hampir tertutup, tiba-tiba dia keluar dan meregapku dengan peluknya. Diciumnya keningku sambil menjinjitkan kakinya, tak ingin tertinggal air matanya mengucur semakin deras, tangisannya menyerempet basah mengenai wajahku. Aku tak dapat berkata,hanya bisa terpaku melihat dia yang semakin menjauh dari pandanganku. Detik terakhir sebelum semuanya hilang tertutup sebuah pintu, terdengar suara lirihnya berkata ”aku mencintaimu”. Pintu pun tertutup, ragaku terpaku layaknya patung. Namun berbeda jauh dengan hatiku yang galau dan tak tenang.
            Detik banyak terlewati, aku mulai menguasai ritme keadaan. Kosong dan sunyi saat itu, namun sedikit mulai terdengar suara erengan kecil dari frisa. Kutempelkan telingaku kepintu itu, erangan itu semakin kencang meraung. Aku tau dia pasti kesakitan, hati ini menyuruh raga ini untuk mendobrak pintu itu. Tapi entah kenapa tidak sampai ke otak ku saat itu. badanku tak bergerak sama sekali, hati ini terus mencoba menyuruh kaki dan tangan ini bergerak. Namun nihil, yang ada di otak ku hanya lah perkataan wanita itu yang tak memperbolehkanku masuk kedalam kamar itu.
            Tapi ada sebuah pergantian kondisi, semula prisa hanya mengerang. Namun saat itu dia berteriak memanggil namaku, sambil berkata ”SAKIT!!”.  sontak aku kaget dan tak tertahankan lagi untuk masuk, ketika hendak aku membuka pintu itu. 3 detik lebih cepat suara wanita itu masuk ke gendang telingaku dan berkata ”jangan masuk!tetap disitu!!” suara itu urungkan niat ku sebelumnya. Aku kembali diam dan hanya bisa mendengar teriakan prisa yang semakin keras sambil menyebut namaku dan meminta tolong. Sampai pada klimaks, terdengar suara jeritan keras yang sangat berbeda dari teriakan-teriakan sebelumnya. Jantungku berhenti berdetak, nafasku lemah, darahku terhenti, aku mati sesaat. Lagi-lagi diam menyelimutiku, keadaan saat itu kembali sunyi. Kucari perlahan suara prisa, namun tak ada. Tiba-tiba pintu terbuka perlahan, dan wanita itu muncul dihadap ku dengan penuh peluh seraya berkata”dia mati kekurangan darah”dengan dingin tanpa dosa.
            Semuanya tak karuan, aku langsung masuk kekamar dan baru saat itu aku melihat seorang perempuan yang kucintai terbujur kaku,pucat dan penuh darah. Kuhampiri perlahan dan kuusap wajahnya dingin penuh peluh. Kupegang tanganya erat, kulihat darah segar yang ada tepat dibawah selangkangan kakinya. Ada sosok tak jelas apa, yang jelas terlihat seperti kepala,tangan,kaki manusia. Aku langsung berteriak ”bangun prisa!!” seraya keluar deras air mataku. Cacian terlontar mengarah ke wanita yang mengatakan prisa telah mati. Emosi membakar jiwaku, aku berlari menghampiri wanita keji itu. kucekik lehernya,dia memberikan perlawanan. Selanjutnya  kutendang perutnya, dia tersungkur. Ketika dia ingin pergi keluar rumahnya, kutarik rambutnya dan ku benturkan kepalanya kelantai sambil berteriak”kembalikan prisa!!”. wanita itu meronta kesakitan, namun perlahan suaranya habis dan sama sekali tak terdengar. Ketika sadar tanganku berlumur darah, lantai bercecer darah. Percaya tidak percaya aku telah membunuh wanita itu. Bukan main terkejutnya saat aku melihat wanita itu sudah tidak bernyawa lagi. ketakutan yang begitu besar menggerayangi tubuhku saat itu. seketika kuputuskan meninggalkan rumah wanita itu, aku lari sejauh-jauhnya meninggalkan wanita itu dan prisa.
            Dan pada akhirnya, aku sekarang berada didepan seorang kakek tua, yang telah menarik tubuhku sebelum aku menjatuhkan raga ini kebawah sungai senja itu. kakek tua renta berbadan bungkuk dan berjalan pincang, yang telah menyelamatkan seorang pria tolol yang harusnya tak penting untuk di diselamatkan.  Itu aku andreas tapilatu, anak dari seorang pengusaha besar terpandang yang tak pernah mendapat kasih sayang.

Jumat, 20 April 2012

SAMARINDA..OH...SARUNG SAMARINDA


            Ada sebuah pertanyaan yang pas untuk mengawali artikel ini,khususnya buat orang – orang yang mengaku tinggal dan hidup di Samarinda “sudah punya sarung samarinda belum dirumah?” that’s it. Kalau penulis sih punyalah (xixi XP), namun mesti kita akuin secara gentle bahwa keberadaan dari sarung samarinda tidak membumi di daerahnya. Dan itulah yang akan kita bahas dan kupas dalam artikel ini, meskipun sekalian bareng mempublish ke kawan – kawan pembaca tentang sarung samarinda dan hasil olah karya pengrajin kain tenun didaerah gua (penulis.. Xixi Xp).
            Kenalin, nama kota gua Samarinda sering disebut dengan kota teduh, rapi dan aman (tepian). Selain terkenal dengai Sungai Mahakam-nya yang luas, tepiannya yang panjang, amplangnya yang khas, pusamania yang top abis, namun ada satu hal yang mungkin sedikit terabaikan yaitu “ sarung samarinda”. Sarung samarinda merupakan salah satu hasil olah karya pertenunan di kota Samarinda. Mempunyai khas yang tidak dimiliki sarung lainnya dan tidak murahnya harga jualnya. Nah, bisa ditebak pasti kawan – kawan pembaca akan berhenti sejenak di red point kata diatas. Wajar dan memang hal yang lumrah, awalnya penulis pun bertanya – bertanya kenapa harga dari kerajinan tersebut bisa sampai tak murah seperti yang lainnya. Berkat kunjungan budaya kedaerah pertenunan sarung samarinda tempoe doloe bersama kawan – kawan ilmu komunikasi, yang diprakarsai oleh bapak Faisal selaku salah satu dosen di kampus FISIPOL, dari situ pandangan dan pikirin penulis kebuka lebar kawan. Ternyata bukan main dashyatnya apa yang penulis dapat hari itu. Bisa ngelihat langsung alat – alat dari yang gede sampai yang kecil, bisa memperhatikan cara kerjanya, bisa ngerasain susah – senang para pengrajin sampai bisa foto – foto bareng di sana (tetap narsis xixi Xp). Oleh karena itu, dengan adanya artikel ini penulis pengen ngebagi sedikit pengetahuan yang mungkin gua tahu lebih daripada loe, just it brother.
            Begini ceritanya, para pengrajin sarung samarinda kebanyakan berasal dari suku Bugis. Pada awalnya Kerajinan ini berasal dari daerah Sulawesi Selatan, dibawa oleh orang-orang Bugis ke Samarinda tepatnya Samarinda Seberang pada sekitar abad ke 18, berkaitan erat dengan sejarah kedatangan suku Bugis ke Kalimantan Timur. Singkatnya keahlian para pengrajin menenun didapatkan secara turun temurun. Dituturkan oleh salah satu pengrajin bahwa mereka (orang tua) selalu mengajarkan kepada anak dan cucunya teknik dan cara penenunan. “kalo disini memang kita ajarkan cara buat kain kepada anak – anak, jadi kalau saya udah mati begitu ada yang nerusin..” canda Mardiah, pengrajin tenun yang sudah 20 tahun menekuni pekerjaannya. Perlu disadari memang proses regenerasi sangat penting untuk dilakukan, secara sadar para pengrajin tentunya tidak ingin kerajinan ini akan punah nantinya (hebat euy.. xixi Xp). Dan patut kita ketahui proses pembuatan kain ini masih menggunakan alat dan cara tradisional, mereka menyebutnya ATBM (alat tenun bukan mesin). Mengapa mereka masih menggunakan cara dan alat tradisional? Jawaban singkat tapi padat yang diutarakan beberapa pengrajin adalah karena menjaga kualitas dan keorisinilan dari kain tersebut. Bayangkan saja mengahasilakn 1 sarung samarinda bisa memakan waktu 15 hari, biasanya dikerjakan oleh 2 sampai 4 pengrajin.
Ini dia proses singkat nan panjang yang bisa gua kasih tau, buat bikin sarung samarinda.
1.      The first step adalah memintal benang, dengan menggunakan pemintal. Benang yang diapakai adalah benang sutra alam dan beberapa benang import yang kebanyakan dari Jerman (keren mameen... xixi Xp). Asal kawan – kawan tahu alat pemintalnya pun dibuat sendiri oleh pengrajin, biasanya oleh pengarajin laki – laki, hebat kan? Hebatlah, Oke lanjut.
2.       Setelah proses pemintalan kemudian masuk kepada tahap perendaman. Pada tahap ini benang yang sudah dipintal diberi corak warna sesuai dengan khas dan ciri kain tersebut. Biasanya sarung tenun samarinda menggunakan warna-warna tua dan kontras seperti hitam, putih, merah, hijau, ungu, biru laut dan hijau daun.bahan pewarna sendiri biasanya juga barang import gitu deh. Dalam tahap perendaman dibutuhkan waktu 3 hari 3 malam. Nah yang kawan – kawan mesti tahu juga, dari kepercayaan para pengrajin mereka merendam benang tersebut menggunakan air sungai Mahakam. Kata mereka hasil rendaman dengan menggunakan air mahakam dapat menimbulakan taste tersendiri, dan hasilnya tentunya akan lebih bagus. Itu kata mereka, percaya atau enggak coba aja sendiri hehe.. lanjut bang.
3.      Oke, setelah direndam masuk kepada tahap pembilasan dan pengeringan. Pada tahapan ini benang- benang tersebut dibilas dan dikeringkan. Proses pembilasan pun harus dilakukan dengan menggunakan air sungai Mahakam. Biasanya para pengrajin beramai – ramai membilas dipinggiran sungai kebesaran kota yaitu Mahakam. Untuk pengeringan tidak ada prose hitungan waktu sih, benang – benang tersebut dijemur langsung dibawah terik matahari, asal benang sudah kering bisa langsung kepada tahapan selanjutnya (mampus aja kalau ujan semingguan, kasian ya).
4.      Benang telah siap kemudian dipintal kembali. Setelah dipintal kembali dilakukan prose penghanian. Proses hani disini bertujuan untuk menghaluskan dan merapikan benang sebelum masuk ke mesin tenun. Proses ini dibutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya.
5.      Akhirnya masuk pada proses ATBM, benang yang telah dihani kemudian dimasukan ke alat tenun bukan mesin dan ditenun. Nah, disini kita bisa lihat kesabaran dan keuletan para pengrajin dalam pembuatannya. Benang – benang tersebut pun akhirnya menjadi sebuah kain yang siap untuk dijahit pada proses terakhir.
6.      Finally, kain yang sudah siap kemudian dijahit menggunakan tangan. Ujung kain ketemu ujung kain dan jadi deh.

Panjang banget kan prosesnya ampun deh, dari situlah gua bongkar kenapa harga kain samarinda ini tidak murah banget. Gila cuy prosesnya, seru sih tapi ribet banget ya kan? Ya mungkin kalau dibaca doang emang gampang. Tapi kalau kawan – kawan liat langsung kesana, widih ngeri. Makanya gua maklumin harga yang tidak murah itu sebanding dengan proses pembuatannya. Selain sarung, para pengrajin pun mengkreasikannya dengan membuat baju, kopiah dan barang – barang lain yang bahan dasarnya tentu dari hasil tenunan mereka. Ini dia daftar harganya yang gua dapat kawan :
·         Sarung ATBM                   : Rp. 250.000,-
·         Tenun kedokan                  : Rp. 350.000,-
·         Baju tenun sepasang           : Rp. 750.000,-
·         Baju perempuan                 : Rp. 400.000,-
·         Kopiah                               : Rp. 85.000,-
·         Dll                                      : sory, gak sempet catet hehehe....

Akhirnya capek gua nulis, di udahin dulu deh. Pokoknya mohon maaf sebesar – besarnya kalau ada salah – salah kata. Cuman ini informasi yang bisa gua kasih. Kalau mau lebih akurat tajam dan percaya silahkan datang ke Kelurahan Masjid gang pertenunan di Samarinda Sebrang, ibu – ibunya bae – bae kok. And kalau mau pesan barang yang udah jadi bisa menghubungi 0541- 264536 atau 0813 500 600 47, yang ngarep no hape saya sih mohon maaf banget karena itu bukan nope saya, tapi contact ibu Hj Fatmawati pemilik pertenunan disana.

The last, Kata terakhir gue yang khusus gua caps lock agak persuasif sih, silahkan dibaca
“MALU NGAKU ORANG SAMARINDA KALAU KAWAN GAK PUNYA SARUNG SAMARINDA DI LEMARI KAWAN -KAWAN”